Wisatawan Butuh Informasi Obyek Wisata

Kompas.com - 26/07/2014, 11:21 WIB
Pekerja membersihkan lumut pada pot bunga saat rombongan wisatawan asing asal Belgia berkunjung ke obyek wisata Istana Air Taman Sari, Yogyakarta, Selasa (2/4/2013). Bekas tempat pemandian Raja Keraton Yogyakarta yang dibangun pada masa pemerintahan Sultan Hamengku Buwono I tersebut merupakan salah satu aset utama industri pariwisata Yogyakarta. KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKOPekerja membersihkan lumut pada pot bunga saat rombongan wisatawan asing asal Belgia berkunjung ke obyek wisata Istana Air Taman Sari, Yogyakarta, Selasa (2/4/2013). Bekas tempat pemandian Raja Keraton Yogyakarta yang dibangun pada masa pemerintahan Sultan Hamengku Buwono I tersebut merupakan salah satu aset utama industri pariwisata Yogyakarta.
EditorI Made Asdhiana
YOGYAKARTA, KOMPAS.com - Praktisi pariwisata dan budaya Widi Utaminingsih mengatakan informasi yang akurat mengenai obyek wisata di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta diperlukan wisatawan saat libur Lebaran 2014.

"Dengan demikian wisatawan bisa mengetahui obyek wisata mana saja yang akan dikunjungi, serta sarana transportasi, dan akomodasi yang tersedia," kata Widi di Yogyakarta, Jumat (25/7/2014).

Menurut dia, informasi pariwisata tersebut dimaksudkan agar wisatawan tidak perlu repot mencari informasi obyek wisata di daerah ini, terutama mereka yang baru pertama kali berkunjung ke DIY.

"Untuk itu, perlu posko informasi pariwisata di tempat strategis seperti pintu gerbang masuk wilayah Yogyakarta, di antaranya pintu masuk Bandara Adisutjipto, Stasiun Tugu, kantor Dinas Pariwisata," kata Ketua Yayasan Widya Budaya Yogyakarta itu.

Menurut Widi, setiap libur Lebaran dipastikan Yogyakarta dibanjiri para pemudik yang merupakan wisatawan potensial. "Sebagian besar dari mereka adalah pemudik yang mengunjungi kampung halamannya atau tempat kelahirannya dalam rangkaian silaturahim dengan keluarga," katanya.

Ia mengatakan, wisatawan mudik tidak boleh diabaikan karena potensinya sangat besar. Mereka juga akan menyempatkan untuk mengunjungi obyek wisata di daerah setempat.

"Untuk itu, Dinas Pariwisata harus bisa memberikan informasi mengenai obyek wisata kepada wisatawan yang libur Lebaran sehingga mereka tidak kesulitan saat mengunjungi obyek wisata," katanya.

KOMPAS IMAGES/KRISTIANTO PURNOMO Wisatawan mengendarai mobil jip saat mengikuti wisata lava tour di kaki Gunung Merapi, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jumat (17/5/2013). Wisata mengunjungi daerah bekas aliran lava erupsi Merapi ini dipungut biaya Rp 300.000 - Rp 500.000 per trip.
Pemberian akses informasi pariwisata sebagai bentuk layanan wisatawan dari pemerintah daerah. "Dengan demikian, wisatawan akan merasa senang dengan kemudahan itu dan mereka akan merasa nyaman saat berada di Yogyakarta," kata Widi.

DIY memiliki obyek wisata yang beragam dari wisata alam pegunungan, pantai, budaya dan wisata minat khusus petualangan di wilayah pegunungan karst Kabupaten Gunung Kidul.

"DIY juga memiliki desa wisata yang jumlahnya cukup banyak dan masing masing desa tersebut memiliki ciri khas sehingga menarik dikunjungi," tambah Widi.

Baca tentang


Sumber Antara
Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X