Menikmati Kuliner Ikan di Rowo Jombor

Kompas.com - 07/11/2015, 08:27 WIB
Waduk Rowo Jombor di Desa Krakitan, Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, makin ramai dikunjungi wisatawan. Di Rowo Jombor ini juga terdapat 454 rumah tangga perikanan, salah satu usahanya adalah rumah makan apung yang berada di tepi jalan desa. KOMPAS/WINARTO HERUSANSONOWaduk Rowo Jombor di Desa Krakitan, Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, makin ramai dikunjungi wisatawan. Di Rowo Jombor ini juga terdapat 454 rumah tangga perikanan, salah satu usahanya adalah rumah makan apung yang berada di tepi jalan desa.
EditorI Made Asdhiana
PETANI ikan itu menyusuri sela-sela perairan di antara ratusan karamba di Waduk Rowo Jombor. Sekali-sekali, jaring ditebar, lalu ditarik ke atas getek atau perahu yang terbuat dari beberapa batang bambu yang diikat erat. ”Saya mencari udang darat,” kata Rosyid (43), petani ikan itu.

Rowo Jombor adalah rawa seluas 198 hektar di Desa Krakitan, Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Rawa ini menjadi tujuan wisata terbesar keempat di Klaten setelah Makam Pandanaran, Candi Plaosan, dan Mata Air Cokro. Ketika dikunjungi pada awal September lalu, perairan Rowo Jombor cukup bersih.

Tidak banyak eceng gondok yang menyebar di permukaan rawa. Rupanya, seminggu sebelumnya, telah dilakukan pembersihan tanaman gulma itu. Menyaksikan hamparan permukaan air yang jernih memang mengasyikkan.

Rawa itu dikelilingi jalan desa sepanjang 7,5 kilometer. Daya tampung air saat puncak sekitar empat juta meter (m) kubik, dengan kedalaman rawa antara 4,5 dan 6 m.

Beberapa warga setempat mengatakan, rawa dibangun pada masa Belanda, seiring berdirinya Pabrik Gula Manisharjo, Pedan, Klaten.

Daerah ini merupakan cekungan dataran rendah yang dikelilingi perbukitan, dan senantiasa menjadi wadah berkumpulnya air hujan serta tumpahan air dari dua sungai, Kali Ujung dan Kali Dengkeng, di sebelah barat laut.

Sejak 1956, Rowo Jombor tak semata untuk irigasi. Belakangan, kawasan wisata ini berkembang sebagai lokasi wisata dan kuliner ikan air tawar. Sejak 1998, banyak pengusaha rumah makan apung dan usaha pemancingan membuka bisnis di sebelah utara tepi Rowo Jombor.

Saat ini, tercatat tidak kurang dari 25 usaha rumah makan apung dan pemancingan bertebaran di tepi Rowo Jombor.

”Saya sebulan sekali mengajak anak-anak makan ikan di Rowo Jombor. Masakan ikan bakar atau ikan goreng khas seperti nila, patin, dan gurami sangat nikmat. Ikannya masih segar dengan harga terjangkau. Makan ikan sekalian rekreasi,” ujar Sofyan, warga Klaten.

Warung apung

Tempat memancing atau menikmati makan ikan dilakukan di warung-warung apung. Lokasi warung apung dan pemancingan di bagian utara menempati perairan empat hektar. Warung apung dibangun dari bambu dan kayu. Di bawah bangunan itu dipasang drum-drum cukup banyak sehingga bisa mengapung.

Warung-warung apung berbentuk kotak dengan bagian tengah kolam besar, tempat pengunjung bisa memancing ikan. Memancing boleh gratis, tetapi begitu mendapat ikan harus dibayar, per kilogram Rp 25.000 untuk ikan gurami, sedangkan ikan lain Rp 17.000.

Kalau mau masak ikan hasil pancingan, cukup membayar biaya bumbu Rp 10.000 hingga Rp 12.000 sekali masak. Beberapa warung bahkan melengkapi tempat makan bertingkat supaya pengunjung sambil makan bisa leluasa menikmati keindahan hamparan air rawa dari atas.

Puluhan warung itu memiliki nama berbeda. Jika wisatawan datang hari Minggu, tidak jarang pengelola warung apung menyediakan hiburan musik dangdut di dalam kompleks warung, di tepi kolam besar. Pengunjung bisa memancing sambil menyaksikan pertunjukan musik dangdut atau pesan lagu sambil memberi tips kepada penyanyi.

Pemilik warung apung Pondok Roso17, Sadikan, mengemukakan, ia membuka warung apung sejak 2001. Pengunjung yang datang paling suka minta dimasakkan ikan hasil pancingan mereka, mulai gurami sampai patin. Bagi mereka yang enggan memancing, pihaknya menyediakan aneka masakan dengan aneka pilihan bumbu untuk olahan ikan air tawar.

Usaha warung apung dan pemancingan telah lama bekerja sama dengan petani ikan yang membuka usaha budidaya ikan lewat karamba apung. Tidak jarang pemilik warung apung juga petani ikan. Pengunjung dapat pula menyaksikan panen ikan, di tengah karamba dengan naik perahu. Biaya naik perahu juga tidak mahal, sesuai kesepakatan dengan pemilik perahu.

”Pada hari biasa, kami melayani pengunjung yang datang dengan tenaga kerja secukupnya. Namun, saat akhir pekan, pengunjung ramai, bahkan sampai malam hari. Pada situasi itu, di warung saya bisa 75 orang yang bekerja melayani pengunjung,” kata Sadikan.

Gemar ikan

Untuk mencapai Rowo Jombor yang berjarak sekitar delapan kilometer dari pusat kota Klaten, pengunjung dapat memilih salah satu dari dua rute jalan. Dari barat, setelah masuk kota klaten menuju Sumberejo, Desa Jimbung, lalu tiba di Desa Krakitan, lokasi Rowo Jombor. Dari arah timur (Solo), setelah Stasiun Klaten bisa menuju Terminal Klaten terus menuju ke Jimbung lalu Rowo Jombor.

Pengunjung yang datang ke Rowo Jombor bisa leluasa dalam memilih warung apung. Lokasi warung apung berjarak 50- 100 m dari tepi tanggul rawa. Untuk mencapai warung itu, tersedia perahu penyeberangan.

Perahu penuh pengunjung siap menyeberangkan dengan cara menarik tali yang terbentang dari pinggir rawa sampai di warung oleh pekerja tanggul, dengan perjalanan 5-10 menit.

Joko Wiyono, Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Klaten menyebutkan, sentuhan lebih terencana bukan tidak mungkin membuat Rowo Jombor seperti Bedugul di Bali. Salah satunya, mengembangkan Sidugoro, kawasan perbukitan di ujung rawa.

Sebagai pusat kuliner ikan air tawar, Rowo Jombor juga menginspirasi Klaten mencanangkan gerakan Gemar Makan Ikan (GMI). Gerakan ini untuk mendorong warga Klaten makan ikan di samping lauk lain.

Ketua Kelompok Pembudidaya Ikan Polanharjo, Klaten, Pandu Sujatmoko menyebutkan, wisata kuliner yang berkembang makin menyedot produksi ikan hasil budidaya petani ikan. Kalau selama ini hasil panen ikan banyak dikirim ke luar kota, dengan gerakan GMI ternyata mendongkrak permintaan ikan.

Setiap petani ikan panen setiap 3-4 bulan, dan menghasilkan 4-5 kuintal ikan per kolam. Banyak petani memilih budidaya ikan nila merah dan ikan nila hitam di kolam air deras. ”Kelompok saya siklus panen secara periodik menghasilkan tiga ton ikan nila. Belakangan, harga ikan naik di kisaran Rp 22.000 per kilogram,” kata Pandu.

Di Rowo Jombor terdapat 454 petani ikan, yang memberi dukungan hasil panen sekitar 168,556 ton per tahun.

Rowo Jombor memang sudah terkenal sebagai daerah wisata rawa dengan kenikmatan kuliner ikan. Bagi pengunjung yang pertama kali ke Rowo Jombor, jangan kaget begitu memasuki kawasan rawa bertemu orang- orang yang berebut menawarkan singgah ke warung apung.

Mereka merayu sambil menahan kendaraan kita. Cara mengatasinya gampang, tinggal menyebut satu nama warung apung, mereka akan memberi kesempatan pengunjung melintas. (Winarto Herusansono)



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X