Rangkaian Upacara Hari Suci Galungan, Apa Saja?

Kompas.com - 15/09/2020, 20:08 WIB
Sejumlah umat Hindu melaksanakan upacara dalam perayaan Hari Galungan di Pura Jagatnatha, Denpasar, Bali, Rabu (1/11/2017). Perayaan Galungan digelar untuk memperingati kemenangan Dharma (kebaikan) melawan Adharma (kejahatan) bagi umat Hindu, sekaligus rasa syukur kepada Ida Sang Hyang Widi Wasa atas ciptaan alam semesta beserta isinya. AFP PHOTO/SONNY TUMBELAKASejumlah umat Hindu melaksanakan upacara dalam perayaan Hari Galungan di Pura Jagatnatha, Denpasar, Bali, Rabu (1/11/2017). Perayaan Galungan digelar untuk memperingati kemenangan Dharma (kebaikan) melawan Adharma (kejahatan) bagi umat Hindu, sekaligus rasa syukur kepada Ida Sang Hyang Widi Wasa atas ciptaan alam semesta beserta isinya.

KOMPAS.com - Umat Hindu akan menyambut Hari Suci Galungan, Rabu (16/9/2020). Seluruh umat Hindu di Indonesia memperingati hari suci tersebut untuk merayakan kemenangan kebaikan atas kejahatan.

Masyarakat masih banyak yang belum mengetahui apa saja yang dilakukan umat Hindu ketika menyambut Hari Suci Galungan.

Secara garis besar, upacara Hari Suci Galungan merupakan saat di mana umat Hindu bersembahyang untuk memuja leluhur di sanggah, merajan.

Baca juga: 6 Keunikan yang Bisa Ditemui di Bali saat Galungan

Namun, sebenarnya umat Hindu sudah melaksanakan upacara menyambut Hari Suci Galungan jauh-jauh hari.

Menurut Guru Besar Ilmu Pariwisata Universitas Udayana Bali I Gede Pitana, umat Hindu sudah memulai menyambut Galungan sejak 24 hari sebelum hari suci.

"Sebenarnya kami sudah mulai itu 24 hari sebelum Galungan yang disebut dengan Announcement to the Galungan. Bahasa Balinya namanya Tumpek Pengarah," kata dia saat dihubungi Kompas.com, Selasa (15/9/2020).

Berikut rangkaian upacara Hari Suci Galungan di Bali:

24 hari sebelum Galungan

Jauh sebelum hari Galungan, tepatnya 24 hari sebelumnya, umat Hindu di Bali telah memulai rangkaian upacara.

Warga Katolik di Bali berbagi kebahagiaan jelang Natal dengan membagikan beragam menu kepada warga Hindu - Bali jelang Natal. Saat Galungan dilakukan warga Hindu-Bali dengan berbagi dengan tetangga yang berbeda agama. Tradisi ini sering dikenal dengan ngejotRobinson Gamar Warga Katolik di Bali berbagi kebahagiaan jelang Natal dengan membagikan beragam menu kepada warga Hindu - Bali jelang Natal. Saat Galungan dilakukan warga Hindu-Bali dengan berbagi dengan tetangga yang berbeda agama. Tradisi ini sering dikenal dengan ngejot

Teknisnya, di Bali akan ada orang yang mengumumkan kepada masyarakat terkait akan adanya perayaan Galungan.

Baca juga: Wisata ke Bali saat Galungan dan Kuningan, Jangan Lupakan 4 Hal Berikut

"Halo-halo bahwa 24 hari lagi akan ada Galungan," ucap Pitana meniru orang yang mengumumkan informasi terkait Galungan itu.

Lanjutnya, orang itu akan mengatakan dan menyisipkan harapan agar supaya hasil bumi, seperti buah-buahan dan sayur-sayuran mekar semua.

Adapun buah, sayur, dan bunga tersebut akan digunakan pada saat hari Hari Suci Galungan tiba.

Dua hari sebelum Galungan, Penyajan

Mendekati hari Galungan, tepat dua hari sebelumnya, umat Hindu kemudian akan tiba di masa menahan diri.

Ilustrasi lawar merah. SHUTTERSTOCK/PURMOON Ilustrasi lawar merah.

Pada Senin (14/9/2020) kemarin, kata dia, umat Hindu sedang memasuki masa menahan diri. Umat Hindu biasa menyebutnya dengan hari Penyajaan.

Baca juga: Hari Raya Galungan: Upacara, Tradisi dan Resep Makanan

Penyajan berasal dari kata Saja yang dalam bahasa Bali berarti benar, serius. Hari ini memiliki filosofi di mana umat Hindu memantapkan diri untuk merayakan hari Galungan.

"Artinya simbolik daripada menahan diri dari hari Senin," kata Pitana.

Menurut kepercayaan Hindu, pada hari itu umat akan digoda oleh Sang Bhuta Dungulan untuk menguji sejauh mana tingkat pengendalian diri untuk menyambut lebih dekat ke Hari Galungan.

Satu hari sebelum Galungan, Penampahan

Sehari sebelum Galungan, umat Hindu akan sampai di hari Penampahan atau hari penyembelihan.

Pitana menjelaskan, pada hari ini, Selasa (15/9/2020), umat Hindu akan menyembelih binatang, seperti babi, ayam, dan bebek.

Sejumlah umat Hindu melaksanakan upacara dalam perayaan Hari Galungan di Pura Jagatnatha, Denpasar, Bali, Rabu (1/11/2017). Perayaan Galungan digelar untuk memperingati kemenangan Dharma (kebaikan) melawan Adharma (kejahatan) bagi umat Hindu, sekaligus rasa syukur kepada Ida Sang Hyang Widi Wasa atas ciptaan alam semesta beserta isinya.AFP PHOTO/SONNY TUMBELAKA Sejumlah umat Hindu melaksanakan upacara dalam perayaan Hari Galungan di Pura Jagatnatha, Denpasar, Bali, Rabu (1/11/2017). Perayaan Galungan digelar untuk memperingati kemenangan Dharma (kebaikan) melawan Adharma (kejahatan) bagi umat Hindu, sekaligus rasa syukur kepada Ida Sang Hyang Widi Wasa atas ciptaan alam semesta beserta isinya.

"Maknanya, kita membunuh nafsu-nafsu yang tidak bagus dalam diri sendiri hari ini. Nah, besok baru puncaknya Galungan, di mana hari kemenangan," ujar dia.

Baca juga: Catat, Tips Wisata di Bali Saat Galungan dan Kuningan

Pada hari Penampahan, umat Hindu akan mengisi kegiatan dengan memasak bersama untuk menyiapkan hidangan saat Galungan esok hari.

Makanan ini pun akhirnya dibagikan kepada masyarakat sekitar. Hal ini juga untuk mengakrabkan atau menjalin kebersamaan.

Hari Suci Galungan

Keesokan harinya, umat Hindu tiba di puncak perayaan kemenangan, yaitu Galungan. Umat telah berhasil memenangkan kebaikan atas kejahatan.

Inti pokok dari perayaan Galungan adalah di mana semua leluhur yang sudah menjadi dewa, dan semua atman-atman (roh) yang sudah suci akan turun dari surga menemui keturunannya di dunia.

Sejumlah umat Hindu bersiap melaksanakan upacara dalam perayaan Hari Galungan di Pura Jagatnatha, Denpasar, Bali, Rabu (1/11/2017). Perayaan Galungan digelar untuk memperingati kemenangan Dharma (kebaikan) melawan Adharma (kejahatan) bagi umat Hindu, sekaligus rasa syukur kepada Ida Sang Hyang Widi Wasa atas ciptaan alam semesta beserta isinya.AFP PHOTO/SONNY TUMBELAKA Sejumlah umat Hindu bersiap melaksanakan upacara dalam perayaan Hari Galungan di Pura Jagatnatha, Denpasar, Bali, Rabu (1/11/2017). Perayaan Galungan digelar untuk memperingati kemenangan Dharma (kebaikan) melawan Adharma (kejahatan) bagi umat Hindu, sekaligus rasa syukur kepada Ida Sang Hyang Widi Wasa atas ciptaan alam semesta beserta isinya.

"Sehingga secara lahiriah akan ada pesta besar-besaran di Bali mulai hari ini sampai besok, untuk seluruh Bali. Jadi mulai hari ini kan kita sudah mulai potong babi, potong bebek, ayam bikin lawar, macam-macam lah, seluruh Bali," kata Pitana.

Oleh karena itu, sambung dia dia, Galungan merupakan perayaan keagamaan terbesar di Bali. Hal ini karena dilakukan oleh semua keluarga di Bali.

Tak hanya itu, perayaan Galungan juga identik dengan penjor yang banyak terlihat di pinggir jalan.

Baca juga: Rangkaian Acara Hari Raya Galungan, Sembahyang hingga Mengarak Barong

"Penjor itu bambu yang dihias dengan janur. Seni. Jadi ada dekorasi di sepanjang jalan di Bali. Mulai kemarin itu sudah ada," imbuh Pitana.

Pagi harinya saat Galungan, umat Hindu akan pergi ke pura di desa masing-masing untuk bersembahyang.

Setelah itu, umat akan bersembahyang ke pura keluarga. Keunikan perayaan Galungan identik dengan hal satu ini di mana umat juga bersembahyang ke pura keluarga.

"Jadi di masing-masing pekarangan di kampung itu ada pura keluarga. Kemudian, sekian keluarga punya pura gabungan, sekian gabungan keluarga itu punya lagi pura gabungan. Jadi ini kan karena leluhur itu bertingkat-tingkat, mengerucut seperti pohon," tuturnya.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X