Kompas.com - 17/11/2020, 11:01 WIB
Suasana di Senayan Park Mall, Minggu (15/11/2020). KOMPAS.com/IhsanuddinSuasana di Senayan Park Mall, Minggu (15/11/2020).

“Hippindo dari Maret itu sudah kami buat protokol kesehatan yang sangat ketat karena kami tahu kesehatan itu yang nomor satu,” tutur Budihardjo dalam kesempatan yang sama.

Salah satu tuntutan VIWI Board selain pencabutan PSBB adalah pencabutan kebijakan terkait pembatasan pengunjung dan jam operasional. Kebijakan tersebut salah satunya dinilai sangat memukul kondisi sektor yang dibawahi Hippindo.

Baca juga: Penerapan Protokol Kesehatan Diyakini Dongkrak Kunjungan Wisatawan

Mulai dari jumlah pembatasan pengunjung ke pusat permainan, salon, mal, hingga dilarangnya dine-in di restoran.

“Harapan kami adalah kembali ke normal supaya kita bisa segera aplikasikan protokol kesehatan yang sudah kita investasikan dengan rapi baik itu protokol dan peralatannya,” papar Budihardjo.

Hal serupa juga diungkapkan oleh Direktur Utama Taman Safari Tony Sumampau. Ia bahkan sempat menyebut bahwa protokol kesehatan yang diaplikasikan di tempat wisata miliknya begitu ketat. Bahkan bisa dibilang lebih ketat dibanding Malaysia dan negara lain.

Mulai dari pemeriksaan suhu, kapasitas pengunjung yang dibatasi, sampai pelarangan pengunjung yang berusia di bawah 9 tahun dan di atas 60 tahun untuk masuk ke tempat wisata.

“Sangat sulit (keadaannya) bahkan karena sudah gencar diisukan klaster Covid-19 itu datangnya dari tempat mal, berkumpulnya orang-orang. Wah sudah rusak lah. Padahal mau masuk di mal saja sudah diperiksa dari awal,” jelas Tony.

Oleh karena itu, ia meminta PSBB jangan dilanjutkan lagi karena penerapan protokol kesehatan yang rapi sudah dijalankan.

Fleksibilitas protokol

Hariyadi menjamin jika PSBB sudah benar-benar dicabut tak serta merta membuat para pelaku usaha abai dengan protokol kesehatan. Akan ada penyesuaian yang dilakukan terkait protokol kesehatan yang diterapkan.

Salah satunya ia mencontohkan terkait sektor hotel yang menerima acara pernikahan.

“Kan kita bisa atur misalnya orang itu mau tamu 1.000. Kapasitas kita hanya muat 400. Ya kita bikin ada tiga shift, diatur jamnya. Semua itu bisa,” terang Hariyadi.

Baca juga: 5 Perbedaan Wisata Ancol antara PSBB Transisi Jilid 2 dan 1, Apa Saja?

Keadaan seperti ini berbeda dengan ketika PSBB masih dijalankan di mana semua kegiatan seperti itu tidak boleh dilakukan.

“Jadi maksud kami tetap kita melakukan seluruh protokol kesehatan dengan baik, tapi lebih fleksibel,” sambung dia.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X