Kerukunan Antarumat Beragama di Wisata Kulon Progo Akan Jadi Sendratari

Kompas.com - 05/04/2022, 05:25 WIB

“Buddhis menjalani ritual. Sedangkan yang beragama lain dalam baju Jawa mengambil air suci di pucuk. Pemeluk agama yang lain lagi bahkan ada yang jadi panitia, pengamanan di jalan, hingga penjaga parkir,” kata Yudono.

Baca juga: Sawah Tadah Hujan Instagramable di Kulon Progo Berlatar Perbukitan Menoreh

Kearifan lokal itu diyakini menarik bila dikemas dalam sendratari. Yudono mengungkapkan, kantornya menargetkan sendratari tampil pada Oktober 2022.

“Ini mimpi kami yang sudah sejak lama,” kata Yudono.

Yudono menegaskan, produk seni budaya itu juga lahir sekaligus mendukung tempat-tempat wisata yang sudah ada. Dengan demikian, harapan Kulon Progo sebagai tujuan wisata berbasis budaya bisa tercapai.

Baca juga: Harga Tiket Masuk dan Jam Buka Wisata Bukit Ngisis Kulon Progo

Sebelumnya, Kulon Progo sudah memiliki sendratari Sugriwo Subali yang sering dipentaskan di obyek wisata Goa Kiskendo, Girimulyo. Kemudian ada sendratari Api di Bukit Menoreh yang mendukung banyak obyek wisata di perbukitan.

Kemudian fragmen tari Suroloyo Wrehaspati yang diharapkan mendukung wisata Puncak Suroloyo di Kapanewon Samigaluh. Lalu, ada sendratari Nyi Ageng Serang sebagai pendukung wisata di Kapanewon Kalibawang.

“Termasuk juga ada tari penyambutan Sri Kayun yang sebentar lagi dikuatkan lewat perbup,” kata Yudono.

Kali ini sendratari Tribuana Manggala Bhakti akan mengankat latar belakang kerukunan masyarakat Jatimulyo.

“Bisa dipentaskan di mana saja sebagai promosi budaya, yang otomatis juga mendukung pariwisata kita,” katanya.

Sementara itu, Ketua Pokdarwis Desa Jatimulyo, Suisno mengatakan, kehadiran sendratari akan menguatkan budaya, wisata dan kerukunan warga. Dengan pengemasan dan fasilitas baik, maka akan menarik wisatawan.

Baca juga: Calendar of Event 2022 Kulon Progo, Ada Ratusan Kegiatan Pendukung Pariwisata

Di antaranya, Pokdarwis mendorong adanya homestay sekitaran Giriloka. Homestay bisa menjadi tempat kegiatan budaya dan wisata, juga menjaga kerukunan.

Sendratari juga bisa dikemas di sana. Hal ini jadi pengingat bahwa tradisi Tribuana berlangsung setahun sekali dan bisa dinikmati pelancong.

“Bisa dipaketkan dengan desa wisata,” kata Suisno.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.