Salin Artikel

Kemenpar Ajak Diaspora Promosikan Kuliner Indonesia di Luar Negeri

"Kita tidak punya banyak restoran di luar negeri. Untuk menyikapi hal tersebut, kita melakukan co-branding dengan restoran di luar negeri. Ini merupakan diplomasi kuliner yang kami lakukan," kata Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya di acara Wonderful Indonesia Gastronomi Forum 2018 seperti termuat dalam siaran pers yang diterima KompasTravel.

"Pemerintah memang sebaiknya terlibat dalam hal ini, bahkan lebih baik lagi jika kita memberikan insentif kepada diaspora yang membuka restoran menu Indonesia di luar negeri. Hal itu bisa menjadi stimulus yang baik," lanjutnya.

Kegiatan ini bertujuan memberikan apresiasi dan motivasi kepada restoran Indonesia di mancanegara yang telah membantu pemerintah untuk mempopulerkan kuliner Indonesia di kancah dunia.

“Kemenpar mendukung mitra co-branding restoran diaspora Indonesia di mancanegara agar tumbuh dan berkembang di tengah persaingan ketat dengan negara tetangga,” kata Arief.

“Tumbuh pesatnya restoran Thailand ini tidak lepas dari peran pemerintah yang memberikan soft loan sekitar Rp 1,5 miliar untuk setiap restoran. Untuk penerapan di Indonesia, kita mendukung restoran tersebut melalui co-branding,” kata Arief.

Selain melakukan co-branding 100 restoran dispora Indonesia, hal lain yang menjadi perhatian Kemenpar adalah penetapan nation’s food yaitu rendang, nasi goreng, sate, soto dan gado-gado serta tiga destinasi kuliner Indonesia yaitu Bali, Bandung dan Joglosemar (Jogya, Solo dan Semarang).

Bentuk kerjasama yang terjadi adalah, para diaspora bisa menggunakan branding Wonderful Indonesia untuk meningkatkan nilai merek restoran. Para mitra juga bisa mempromosikan pariwisata melalui lima nation's food.

Apresiasi yang sama juga diberikan oleh Menteri Luar Negeri, Retno Marsudi.

"Kami memberi apresiasi kepada para diaspora yang memperkenalkan makanan di luar negeri. Saya paham, kita terus berusaha mempertahankan daya tarik makanan Indonesia, dis ana merupakan negara di mana makanan Indonesia paling banyak ada. Disinilah para diaspora berperan," papar Retno.

Retno berpendapat agar nama makanan Indonesia yang dipromosikan dipertahankan nama aslinya, seperti nasi goreng, gado - gado, dan lain-lain. Retno pun mengakui untuk memperkenalkan kuliner Indonesia kepada dunia memang memerlukan usaha lebih, tetapi hal itu dapat meningkatkan nilai jual pariwisata Indonesia bagi wisman.

“Dalam promosi, kita tetap harus memperhatikan keaslian makanan, tampilannya, serta bagaimana makanan tersebut dijual. Biasanya sebuah makanan akan naik nilai jualnya kalau ada cerita dibaliknya. Kembangkanlah Indonesia yang majemuk dan damai. Mari dukung diplomasi kuliner Indonesia," pungkas Retno.
 
Seperti diketahui kuliner merupakan media diplomasi sosial ekonomi paling halus, cepat, impactful, dan efektif untuk mempopulerkan Indonesia sebagai destinasi pariwisata yang menarik di dunia.

Kuliner juga memberikan kontribusi terbesar dalam kegiatan pariwisata  sekitar 30 persen hingga 40 persen pengeluaran wisatawan untuk kebutuhan makan dan minum. (*)

https://travel.kompas.com/read/2018/11/24/160400827/kemenpar-ajak-diaspora-promosikan-kuliner-indonesia-di-luar-negeri

Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.