Gudeg Yu Djum, Aromanya Sangat Khas - Kompas.com

Gudeg Yu Djum, Aromanya Sangat Khas

Kompas.com - 04/04/2014, 14:25 WIB
KOMPAS.COM/FIRA ABDURACHMAN Gudeg Yu Djum yang disajikan dengan daun pisang.

YOGYAKARTA, KOMPAS.com - Semangat memulai pagi di Yogyakarta dengan menikmati kegurihan gudeg sebagai menu sarapan. Adalah jalan Wijilan yang letaknya tak jauh dari kawasan Keraton Yogyakarta. Pintu masuknya berbentuk gerbang putih tinggi yang masih kokoh peninggalan kerajaan Mataram. Ah, rasanya seperti membuka kembali pelajaran sejarah.

Jalan Wijilan mulai ramai oleh penjual gudeg sejak tahun 1942. Sampai sekarang jalan ini ramai oleh kedai gudeg mulai pagi sampai malam. Bahkan ada yang buka 24 jam. Dari kawasan Keraton Yogyakarta bisa jalan kaki atau naik becak. Tarif becak biasa dikisaran harga Rp 10.000 - Rp 15.000 dari kawasan Malioboro, Tugu, dan sekitarnya.

Mulai jam 6 pagi para penjual gudeg berjejer di sepanjang jalan. Ada yang lesehan ada juga yang model kedai dengan kursi dan meja. Susah–susah gampang memang memilih gudeg mana yang bakal cocok di lidah.

KOMPAS.COM/FIRA ABDURACHMAN Gerbang masuk Jalan Wijilan, Yogyakarta.

Setidaknya ada 2 macam gudeg yaitu gudeg basah dan gudeg kering. Sesuai namanya, kalau gudeg basah biasanya sedikit berkuah atau biasa disebut “nyemek”. Kalau gudeg kering tanpa kuah atau tidak berair tapi tidak sampai garing. Gudeg kering dimasak lebih lama hingga kuahnya habis. Warnanya cokelatnya juga lebih tua dibanding gudeg basah.

Dari literatur yang ada, gudeg adalah bagian dari sejarah Kerajaan Mataram. Konon sekitar tahun 1550 seorang istri prajurit kerajaan yang bertugas di dapur umum biasa memasak nangka muda atau disebut Gori. Suatu hari ia mencoba mencampur nangka muda dengan santan dan gula merah. Ternyata hasilnya enak dan banyak yang suka. Akhirnya menjadi makanan favorit utama sampai sekarang bagi masyrakat Yogyakarta.

Ada juga kisah lainnya yang mengatakan bahwa gudeg ditemukan oleh seorang prajurit secara tidak sengaja. Prajurit tersebut memang biasa memasak nangka muda dengan santan dan gula merah hasil dari hutan sekitar. Karena kelelahan setelah membabat hutan, nangka muda tersebut lupa diangkat dari kompornya sampai 5-6 jam. Ternyata ketidaksengajaan ini menghasilkan makanan enak dan melegenda sampai sekarang.

KOMPAS.COM/FIRA ABDURACHMAN Gudeg kering Yu Djum, rasanya gurih dan tidak terlalu manis di lidah para turis.

Salah satu gudeg yang terkenal yang ada di jalan Wijilan ini adalah Gudeg Yu Jum. Nama Yu Djum berasal dari Djuwariah. Yu Djum mulai membuka kedainya di jalan Wijilan sejak 1950. Sampai sekarang Yu Djum yang sudah berusia lebih dari 80 tahun ini memasak sendiri gudeg jualannya.

Jenis gudegnya adalah gudeg kering. Salah satu rahasia kegurihan gudeg Yu Djum adalah gudegnya dimasak di kompor model lama yang apinya dari kayu bakar. "Nangka mudanya diambil dari langganan, sudah biasa setiap hari. Dari luar Yogya, dari Purworedjo," ungkap Elina, salah seorang anak perempuan Yu Djum yang ikut berkecimpung di bisnis gudeg milik ibunya.

Sama dengan gudeg lainnya, Gudeg Yu Djum disajikan dengan krecek pedas, ayam dan telor bumbu gudeg, termasuk tahu dan tempe bacem. "Ayamnya kampung betina, kalau jantan nggak enak. Telornya telor bebek," kata Elina.

Gudeg Yu Djum disajikan diatas daun pisang. Harumnya sangat khas gudeg, gurih yang berasal dari santan ditambah aroma gula merah. Saat Kompas.com mencicipinya entah bagaimana manisnya memang pas. Manisnya cocok di lidah orang yang bukan orang Jawa dan para turis. Ditambah ayam kampung dan telornya yang kuat dengan rasa bumbunya yang meresap. Kreceknya bertekstur kering seperti gudegnya. Sedikit pedas dan santannya juga tidak kental terasa dimulut. Kalau mau lebih pedas, cabe rawit rebusnya menambah cita rasa pedasnya.

KOMPAS.COM/FIRA ABDURACHMAN Gudeg Yu Djum di Jalan Wijilan, Yogyakarta yang buka sejak 1950-an.

Elina mengaku sulit menghitung berapa banyak porsi gudeg yang habis terjual. "Susah mbak ngitungnya. Tergantung pembeli. Pokoknya setiap mau habis ya bikin lagi," ucapnya. Selain di Wijilan, Gudeg Yu Djum juga membuka kedai di jalan Kaliurang. Sama dengan di Wijilan, kedainya yang di jalan Kaliurang juga selalu ramai dihampiri pelanggan.

Harga Gudeg Yu Djum juga tidak terlalu mahal. Nasi gudeg, krecek, dan telor harganya Rp 9.000. Selain makan di tempat, Gudeg Yu Djum menyediakan paket oleh–oleh dengan besek dan kendil. Harga paketnya berkisar antara Rp 40.000 sampai Rp 240.000.

Tidak berlebihan rasanya kalau dibilang belum ke Yogyakarta kalau tidak mampir ke Gudeg Yu Djum. Kenyang di perut, puas juga di lidah.


EditorI Made Asdhiana

Close Ads X