UNESCO Diharapkan Akui Kota Tua Jakarta

Kompas.com - 18/06/2014, 16:22 WIB
Sepeda ontel wisata yang jumlahnya ratusan, berderet menanti penyewa di depan Museum Sejarah Jakarta atau Museum Fatahillah di Kawasan Kota Tua Jakarta, Sabtu (7/5/2011).  KOMPAS/LASTI KURNIA Sepeda ontel wisata yang jumlahnya ratusan, berderet menanti penyewa di depan Museum Sejarah Jakarta atau Museum Fatahillah di Kawasan Kota Tua Jakarta, Sabtu (7/5/2011).
EditorI Made Asdhiana
JAKARTA, KOMPAS — PT Pembangunan Kota Tua Jakarta membentuk tim kecil yang secara penuh bekerja untuk revitalisasi kawasan Kota Tua. Diharapkan, dalam waktu tidak terlalu lama Kota Tua Jakarta bisa ditetapkan menjadi tujuan wisata warisan dunia yang diakui Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO).

”Kami akan membentuk tim khusus yang bekerja penuh waktu. Kerjanya cuma mempersiapkan semua hal yang dibutuhkan agar Kota Tua Jakarta masuk daftar nominasi warisan dunia UNESCO,” kata Chief Executive Officer PT Pembangunan Kota Tua Jakarta Lin Che Wei, di Jakarta, Selasa (17/6/2014).

Deputi Gubernur DKI Jakarta Bidang Budaya dan Pariwisata Sylviana Murni pun menyambut niat ini. ”Besok sudah langsung kami siapkan surat keputusan untuk membentuk tim kecil. Kami berharap agar penyiapan dokumen jangan sampai gagal kalimat per kalimat. Kami saat ini sedang dalam proses menangani keamanan dan menata PKL (pedagang kaki lima),” katanya.

Bagi Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Wiendu Nuryanti, tim kecil yang beranggotakan para pakar lintas bidang dan pemangku kepentingan itu harus benar-benar bekerja keras. ”Penting membentuk tim yang benar-benar bekerja karena kita akan terus-menerus hari demi hari berkoordinasi dengan UNESCO. Timnya jangan berganti-ganti dan dari berbagai bidang, mulai arsitek hingga ahli kawasan lingkungan. Mereka memiliki otoritas untuk memutuskan kerja-kerja teknis dan mengkaji persyaratan yang disodorkan UNESCO serta menjawab dengan dokumen,” kata Wiendu.

Wiendu mengatakan, ia belajar dari Subak di Bali, yang telah ditetapkan menjadi warisan dunia UNESCO pada 2012. ”Prosesnya panjang, sampai 12 tahun. Akhirnya bisa juga. Belajar dari Subak, saya harap Kota Tua Jakarta bisa lebih cepat,” ujarnya.

Lin Che Wei mengatakan, pihaknya telah melakukan studi banding mengenai kota-kota tua yang berasal dari Belanda. Tiga dari delapan kota itu sudah ditetapkan menjadi warisan dunia. Kawasan Kota Tua Jakarta merupakan satu di antara delapan kota tua terbesar dan tertua yang terbentuk pada 1619. Jadi, melihat hal itu saja, Kota Tua Jakarta sangat layak dan mungkin menjadi warisan dunia.

Tiga kota tua yang berasal dari Belanda dan telah menjadi warisan dunia itu meliputi Galle di Sri Lanka yang berdiri tahun 1640 dan ditetapkan menjadi warisan dunia pada 1988. Lalu Willemstead di Curacao (Karibia), yang berdiri pada 1634 (ditetapkan pada 1987), dan Paramaribo di Suriname yang berdiri pada 1667 (ditetapkan pada 1992).

Arkeolog Candrian Attahiyat menyarankan, yang paling prioritas dilakukan adalah revitalisasi dulu secara total. ”Baru setelah itu rasanya tidak sulit menjadi warisan dunia,” kata Candrian. (IVV/WIN)

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X