Kompas.com - 27/02/2016, 10:18 WIB
EditorI Made Asdhiana
YOGYAKARTA, KOMPAS.com - Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta optimis mampu menjadi kota wisata terkemuka se-ASEAN pada 2025 sesuai visi Gubernur DIY Sri Sultan HB X dengan mengandalkan potensi pariwisata budaya benda maupun tak benda yang dimiliki.

Kepala Bidang Perekonomian Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) DIY, Sugeng Purwanto di Gedung DPRD DIY, Jumat (26/2/2016), mengatakan menuju kota wisata terkemuka, DIY telah memiliki modal dasar berupa lingkungan yang khas, keamanan dan kondisi politik yang stabil, karakter masyarakat yang ramah, serta aksesibilitas wilayah yang relatif mudah. (Baca: Air Terjun Kedung Pengilon, Bisa Bercermin di Air Saking Jernihnya)

"Sehingga meski tetap membutuhkan dukungan program tertentu, sebetulnya dengan potensi itu, wisata di Yogyakarta sudah bisa jalan," kata Sugeng dalam Forum Diskusi bertajuk "Jogja Menuju Kota Pariwisata Terkemuka di ASEAN" itu.

KOMPAS.COM/RONNY ADOLOF BUOL Bagian goa kedua di Kalisuci, Gunung Kidul, Yogyakarta.
Selain destinasi wisata populer seperti Candi Prambanan, Pantai Parangtriris, Malioboro, dan Keraton Yogyakarta, menurut Sugeng, DIY juga memiliki potensi wisata, baik yang bendawi (tangible) maupun tak benda (intangible). (Baca: Wow... Menelusuri Sungai Bawah Tanah di Kalisuci)

Potensi wisata itu, di antaranya seperti perbukitan karst di Gunungkidul, Goa Jomblang, Goa Pindul dan yang takbenda seperti kesenian tari, kemahiran membatik, dan wisata sejarah.

Selain itu, lanjut Sugeng, DIY juga telah memetakan 13 kota pusaka (heritage city) seperti kawasan Malioboro, kawasan Keraton, Kotabaru, Pakualaman, Kotagede, Merapi, Prambanan, Pleret, Imogiri, Parangtritis, Sokoliman, Purba Nglanggeran, dan Pusat Kota Wates.

KOMPAS.COM/RONNY ADOLOF BUOL Batu-batu raksasa yang membentuk dinding khas di kawasan wisata Gunung Api Purba Nglanggeran, Gunungkidul, DI Yogyakarta.
Menurut Sugeng, dalam rangka menuju kota wisata terkemuka 2025, Pemda DIY telah memulai berbagai pembangunan infrastruktur berbasis wisata, seperti percepatan realisasi Jalur Jalan Lintas Selatan (JJLS) serta pelebaran akses jalan menuju Bandara Internasional baru di Kulon Progo dengan konsep non-tol.

"Pelebaran akses jalan non-tol, dimaksudkan agar tidak ada pembatas sehingga masyarakat ikut merasakan dampak ekonomi-nya," katanya.

Kepala Bidang Pengembangan Kapasitas Pariwisata Dinas pariwisata DIY Setyawan mengatakan selain destinasi wisata yang sudah ada, eksistensi desa wisata juga akan terus diandalkan menuju kota wisata terkemuka ASEAN.

KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO Pengunjung menikmati senja di pelataran Candi Prambanan, DI Yogyakarta, Selasa (24/5/2011). Candi Prambanan telah menjadi salah satu ikon pariwisata Indonesia dan kemegahannya terus menghadirkan daya tarik bagi wisatawan dari berbagai penjuru dunia.
Menurut Setyawan, hingga kini terdapat 96 kelompok sadar wisata (pokdarwis) pengelola desa wisata yang tersebar di lima kabupaten/kota.

Halaman:


Video Pilihan

Sumber Antara
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.