Beberapa Situs Atraksi di Jepang Melarang Turis Rombongan, Mengapa?

Kompas.com - 26/03/2019, 16:10 WIB
Turis memenuhi area penyelenggaraan Sapporo Snow Festival ke-70 di Odori Park, Kota Sapporo, Prefektur Hokkaido, Jepang, Senin (11/2/2019). Sapporo Snow Festival merupakan acara musim dingin tahunan yang digelar di Kota Sapporo.KOMPAS.com / WAHYU ADITYO PRODJO Turis memenuhi area penyelenggaraan Sapporo Snow Festival ke-70 di Odori Park, Kota Sapporo, Prefektur Hokkaido, Jepang, Senin (11/2/2019). Sapporo Snow Festival merupakan acara musim dingin tahunan yang digelar di Kota Sapporo.

JAKARTA, KOMPAS.com - Beberapa obyek wisata atau situs populer di Jepang melarang kunjungan wisatawan rombongan. Koran lokal Jepang, Asahi Shimbun, menyebutkan hal ini disebabkan perilaku turis yang menyalahi aturan selama berwisata.

Contohnya adalah sebuah kuil Sasaguri Nanzo-in di Fukuoka yang kewalahan menerima kedatangan turis mancanegara dalam jumlah besar selama satu dekade.

Biksu kepala Kakujo Hayashi mengatakan ada 20-30 bus yang membawa penumpang kapal pesiar, berukunjung ke kuil tersebut dan menganggu ketenangan kuil yang sejatinya tempat peribadatan.

Baca juga: Pilihan Transportasi Murah saat Berwisata di Jepang

Turis menyetel musik dalam suara keras, bermain di air terjun keramat tempat untuk biksu berdoa, sampai memanjat ke atap kuil.

Lantaran hal tersebut, pihak kuil menutup kunjungan untuk turis rombongan mancanegara dan lokal. Namun masih menerima kunjungan turis lokal maupun mancanegara individu.

Selain Sasaguri Nanzo-in, ada juga kuil Yatsushiro-gu di Prefektur Kumamoto yang menutup kunjungan sejenak, setelah kunjungan kapal pesiar di pelabuhan terdekat melonjak enam kali lipat pada 2017.

Kastil Matsuyama di Kota Matsuyama, Jepang.SANDRO GATRA/KOMPAS.com Kastil Matsuyama di Kota Matsuyama, Jepang.

Bukan hanya kapal persiar, seorang pemilik bar di Kyoto juga menutup kunjungan dari turis rombongan yang terdiri dari lebih dari lima orang. Pemilik bar tersebut mengatakan banyak turis membawa makanan dari luar bar dan menggunakan piring makan sebagai asbak.

Pariwisata massal di Jepang bukan hanya melahirkan masalah baru tetapi juga kata baru. Ungkapan 'kanko kogai' disematkan untuk artian 'polusi pariwisata'.

Baca juga: Cara Jepang Mengetahui Mekar Bunga Sakura dengan Tepat

Untuk mengatasi masalah pariwisata massal, pemerintah Jepang memberi kebijakan pajak pulang 'sayonara tax' untuk mengembangkan infrastruktur yang berguna untuk masyarakat.

Japan National Tourism Organization (JNTO) kian rajin mempromosikan daerah-daerah yang masih belum banyak dieksplor turis, menghindari pariwisata massal di satu daerah. Petunjuk akan pariwisata juga semakin diperbanyak dalam bahasa Inggris dan Mandarin.

Selama tujuh tahun berturut-turut kunjungan wisatawan ke Jepang terus meningkat. Data terakhir pada 2018 ada 31,2 juta wisatawan mancanegara berkunjung ke Negeri Sakura. Jumlah tersebut diperkirakan akan meningkat pada 2019 dengan diselenggarakannya Rugby World Cup dan Olimpiade Tokyo pada 2020.



Close Ads X