Kompas.com - 02/11/2019, 22:07 WIB
Florence Schechter dan volunteer Jasmine Evans memegang aksesoris Museum Vagina. Florence Schechter dan volunteer Jasmine Evans memegang aksesoris Museum Vagina.

“Hanya ada satu cara untuk melihat perubahan di dunia, dan itu dengan melakukannya sendiri,” kata Schechter dilansir dari Lonely Planet Travel News.

“Aku berharap masyarakat bisa merasakan bahwa vagina, vulva, dan anatomi gynaecology bukanlah sesuatu yang memalukan. Mereka luar biasa dan bisa melakukan banyak hal keren. Tujuan utama dari museum ini adalah menghilangkan stigma untuk bagian tubuh ini,” lanjutnya.

Baca juga: 5 Cara agar Museum Tetap Relevan dengan Masyarakat

Museum ini nantinya akan berfokus pada penghilangan stigma dan rasa malu yang selama ini meliputi seksualitas wanita.

Caranya dengan mengadakan beragam pameran yang menjelaskan segala hal dari mulai anatomi dan masyarakat hingga menstruasi dan seks.

Hal ini merujuk pada hasil riset yang dilakukan oleh Eve Appeal, bahwa 65 persen masyarakat berusia 16-25 tahun merasa kesulitan untuk menggunakan kata “vagina” atau “vulva”.

Museum Vagina nantinya akan punya berbagai program acara yang diisi dengan seminar, panel, workshop, kelas, malam komedi, serta program kolaborasi dengan profesional di bidang medis untuk memberikan layanan yang lebih baik untuk mendukung komunitas trans dan interseks.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Baca juga: Borough Market, Pasar Berusia 1.000 Tahun Favorit Turis di London

Selain itu, Museum Vagina juga berusaha untuk membahas berbagai isu penting yang punya andil langsung terhadap wanita.

Misalnya, consent, body image, dan intersektionalitas. Tidak hanya itu saja, Museum Vagina juga akan menjual berbagai merchandise menarik seperti crochet clitorises, pussy pendants, tote bag, dan stiker bertuliskan “vaginas are normal".

Adanya Museum Vagina ini juga ditanggapi dengan baik oleh Dr Alison Wright, wakil presiden Royal College of Obstetricians dan Gynaecologists.

Dr Wright menyebut museum ini sebagai aset yang luar biasa besar dalam mendorong percakapan terbuka soal kesehatan wanita.

Bagi kamu yang berminat untuk datang ke sini, Museum Vagina bakal dibuka pada 16 November 2019 mendatang.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.