Kopi Indonesia Bisa Harum di Kancah Dunia, asal...

Kompas.com - 11/03/2020, 10:05 WIB
Salah satu petani kopi di perkebunan Kawisari siap memanen biji kopi dok. Kawisari Coffee & EaterySalah satu petani kopi di perkebunan Kawisari siap memanen biji kopi

 

Mereka memanen seluruh biji kopi yang ada di pohon. Mereka terbiasa mengambil semua biji baik yang berwarna merah ataupun masih berwarna hijau atau artinya belum matang.

Menurut Dadang, hal itu sangat mempengaruhi kualitas serta harga dari biji kopi yang dipanen tersebut.

"Itu yang menyebabkan cita rasa kopi tidak bagus. Banyak perusahaan atau koperasi juga yang akhirnya beli kopi dengan harga murah pada petani karena kualitasnya tidak baik," jelas Dadang.

 

Seharusnya, menurut Dadang, panen dilakukan setiap 3-6 bulan sekali. Itu pun hanya biji merah yang seharusnya diambil.

Hal tersebut dilakukan untuk menjaga agar biji kopi tetap berkembang sehingga petani bisa panen lagi di masa yang akan datang.

Tak itu saja, perhatian petani pada kebun kopi juga tak begitu besar. Seringkali para petani tidak melakukan perawatan yang intens untuk kebunnya. Mereka hanya datang saat waktu panen saja.

Baca juga: Unik! Kopi Jawa Barat Dijual di Kedai Kopi Australia, Diresmikan Ridwan Kamil

Hal yang sama juga diungkapkan William Heuw. Owner dari Kopi Kangen ini mengungkapkan, petani sejauh ini banyak yang hanya peduli untuk menjual seluruh biji kopi yang ada.

Mereka akhirnya menjual dengan harga murah.

Petani kopi asal Desa Cupunagara.Dok Humas Kemendes Petani kopi asal Desa Cupunagara.
"Mereka asal ambil, dijualnya kan menggunakan volume atau berat. Jadi orang yang ambil (beli) dari petani itu, yang penting mereka ambil berat dengan harga murah," jelas William.

Selain ketidaktahuan petani tentang tata cara bertani kopi yang benar, Dadang juga mengungkapkan masalah lain di industri kopi Indonesia adalah harga.

Kopi Indonesia seringkali lebih mahal dari kopi produksi negara lain, misalnya Kolombia dan Brazil.

Hal itu terjadi karena produksi biji kopi Indonesia yang tidak sebanyak negara tersebut, sehingga biji yang diekspor pun punya harga relatif mahal.

"Harganya tidak kompetitif. Soalnya barang kita sedikit, harga pasti jadi mahal. Jadi sering ketika negara lain menurunkan harga, kita malah stabil atau malah petani menaikkan harganya," ucap Dadang.

Baca juga: Viral Foto Es Kopi Susu Campur Kecap Bango, Dijual di Kedai Kopi

Rencana Jangka Panjang

Untuk mengatasi tantangan tersebut, berbagai pihak sudah mulai melakukan aksi penyuluhan atau pelatihan pada para petani untuk bisa menghasilkan produk biji kopi yang bisa bersaing.

Menurut Dadang, pihaknya sudah sering melakukan penyuluhan pada petani di Jawa Barat khususnya daerah Garut, Ciwidey, Bandung Utara, dan Pangalengan.

"Pertama, kita harus perbaiki dari kualitas dulu sebelum produktivitas. Kualitas diperbaiki, adakan penyuluhan bahwa yang dipetik itu biji merah saja," kata Dadang.

:Supaya bulan depan mereka bisa panen lagi karena masih ada biji kopi yang belum matang kemarin tidak dipetik," lanjutnya.

Baca juga: Apa Perbedaan Kopi Robusta dan Arabika?

Halaman:
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

New Normal, Portugal Luncurkan Stempel Clean & Safe untuk Pegiat Wisata

New Normal, Portugal Luncurkan Stempel Clean & Safe untuk Pegiat Wisata

Whats Hot
Tak Ada Wisatawan, Bagaimana Nasib UMKM Pariwisata dan Pusat Oleh-Oleh Yogyakarta?

Tak Ada Wisatawan, Bagaimana Nasib UMKM Pariwisata dan Pusat Oleh-Oleh Yogyakarta?

Whats Hot
Protokol New Normal Hotel di Filipina, Diminta Tak Diskriminasi Tamu yang Terinfeksi Virus Corona

Protokol New Normal Hotel di Filipina, Diminta Tak Diskriminasi Tamu yang Terinfeksi Virus Corona

Travel Tips
Kangen ke Pantai? Yuk Menyelam Virtual di Raja Ampat

Kangen ke Pantai? Yuk Menyelam Virtual di Raja Ampat

Jalan Jalan
Bentuk Mirip tapi Tekstur Tak Sama, Apa Bedanya Waffle Belgia dengan Waffle Amerika?

Bentuk Mirip tapi Tekstur Tak Sama, Apa Bedanya Waffle Belgia dengan Waffle Amerika?

Makan Makan
Resep Gampang Waffle, Bikin Sendiri di Rumah

Resep Gampang Waffle, Bikin Sendiri di Rumah

Makan Makan
New Normal, Pelaku UMKM Makanan Diminta Utamakan Higienitas dan Digitalisasi

New Normal, Pelaku UMKM Makanan Diminta Utamakan Higienitas dan Digitalisasi

Whats Hot
Apa Bedanya Waffle dengan Pancake? Berbahan Sama tapi Rasa Tak Serupa

Apa Bedanya Waffle dengan Pancake? Berbahan Sama tapi Rasa Tak Serupa

Makan Makan
Apa Itu Waffle? Makanan Khas Negara Mana dan Sejarahnya

Apa Itu Waffle? Makanan Khas Negara Mana dan Sejarahnya

Makan Makan
Resep Membuat Golgappa, Makanan India pada Film 'Rab Ne Bana Di Jodi'

Resep Membuat Golgappa, Makanan India pada Film 'Rab Ne Bana Di Jodi'

Makan Makan
Asal-usul Golgappa, Makanan India yang Disantap Shah Rukh Khan pada Film 'Rab Ne Bana Di Jodi'

Asal-usul Golgappa, Makanan India yang Disantap Shah Rukh Khan pada Film 'Rab Ne Bana Di Jodi'

Makan Makan
Apa Itu Golgappa? Makanan India yang Muncul pada Film 'Rab Ne Bana Di Jodi'

Apa Itu Golgappa? Makanan India yang Muncul pada Film 'Rab Ne Bana Di Jodi'

Makan Makan
Wisata Bukittinggi Buka Kembali, Wisatawan Wajib Ikuti Protokol Kesehatan

Wisata Bukittinggi Buka Kembali, Wisatawan Wajib Ikuti Protokol Kesehatan

Jalan Jalan
4 Resep Oreo Supreme Versi KW, Bisa Bikin Sendiri di Rumah

4 Resep Oreo Supreme Versi KW, Bisa Bikin Sendiri di Rumah

Makan Makan
Apa Itu SIKM? Surat Izin Keluar Masuk untuk Naik Pesawat ke Jakarta

Apa Itu SIKM? Surat Izin Keluar Masuk untuk Naik Pesawat ke Jakarta

Whats Hot
komentar di artikel lainnya
Close Ads X