Kompas.com - 02/06/2020, 14:09 WIB

"Selama ini, hal ini tidak menjadi perhatian kita. Destinasi yang dikembangkan dianggap sama saja sebagai Bali Baru termasuk 10 KEK dan 5 Destinasi Super Prioritas, yang semuanya berskala besar. Oleh karena itu, segera lakukan evaluasi terhadap destinasi Bali Baru tersebut. Fokus pada daya tarik otentik local wisdom," jelasnya.

Azril juga menyoroti perubahan target pariwisata yang mengarah pada wisata berkualitas, tidak lagi dengan kuantitas atau mass tourism.

"Tapi pada kualitas berupa nilai yang akan kita terima misalnya, berapa persen kontribusi sektor pariwisata terhadap PDB, berapa persen penyerapan tenaga kerja sektor pariwisata terhadap nasional," terangnya.

Baca juga: Pariwisata Dibuka Lagi, Jokowi: Fokus ke Wisatawan Domestik

Pemerintah juga diminta agar dapat membangun dengan segera optimistik dan kepercayaan dunia agar mau kembali berwisata ke Indonesia.

Krisis jadi peluang

Setelah hal-hal mendasar tersebut diterapkan, maka menurut Azril, pariwisata Indonesia bisa mentransformasikan krisis Covid-19 menjadi peluang pariwisata.

Namun, ia justru meragukan apakah pemerintah mampu memanfaatkan krisis menjadi peluang. Hal ini ia utarakan karena melihat konektivitas antar sistem pariwisata sudah terputus selama pandemi.

"Sedangkan price sensitivity wisatawan sangat rentan atas perubahan yang ada selama pandemi dan dapat dipastikan harga akan semakin mahal, karena physical distancing sehingga carrying capacity setiap destinasi terpaksa harus dibatasi," ungkapnya.

Ia pun meyakini bahwa keseimbangan kemampuan berbelanja dari wisatawan akan semakin terbatas dan cenderung menurun.

Hal tersebut yang menurutnya, akan menjadikan wisatawan terpaksa menuntut berwisata dalam kelompok lebih kecil demi keamanan dan keselamatan mereka.

"Apakah hal ini telah disadari oleh pemerintah? Hati-hati pariwisata dibuka lagi, kalau yang dasar saja belum mampu kita mengatasinya. Artinya, selama krisis pandemi Covid-19 kita harus berbenah diri atas kesalahan dan kelemahan kita selama ini," tekan Azril.

Ia pun juga menyoroti bahwa kurva melandai bukan berarti Covid-19 telah usai di Indonesia. Ia berharap pemerintah harus tetap memperhatikan keberadaan virus yang masih ada, terutama ketika pariwisata kembali dibuka.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:
Baca tentang


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.