Kompas.com - 11/12/2020, 20:08 WIB
Ilustrasi pameran Rordrick A MozesIlustrasi pameran

Meski penggabungan antara kegiatan MICE online dan langsung mungkin dirasa mengganggu industri oleh sebagian orang, menurut Leonard yang sebenarnya mengganggu adalah pandemi Covid-19.

Baca juga: Wishnutama Garap Event, Pelaku MICE Minta Event Internasional Selain di Jakarta dan Bali

Leonard menjelaskan bahwa jika nantinya kegiatan MICE sudah mulai dilakukan secara langsung, yang perlu diperhatikan bukan hanya protokol kesehatan.

Beberapa aspek, seperti bagaimana pelaku industri harus bersikap, termasuk pemilik venue, event organizer, pemerintah setempat, publik, serta pengunjung regional dan internasional juga harus diperhatikan.

“Semua komponen harus diperhatikan. Interaksi antarkomponen harus diperhatikan,” tutur Leonard.

Baca juga: Pandemi Covid-19 Telah Batalkan 234 Acara MICE di Singapura

Apabila pelaku industri ingin melaksanakan kegiatan MICE secara virtual, seluruh aspek tersebut perlu diperhatikan.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Sebab, apa yang terjadi secara langsung dirasa sulit direplikasi secara online, terlebih soal interaksi pihak yang terlibat.

“Untuk menduplikasi apa yang ada secara langsung jadi ada di (kegiatan) online, industri MICE harus mengerti esensi MICE. Ini digabungkan ke online, sepertinya harus adaptasi,” ucapnya.

Harus depankan interaksi

Bagi pelaku MICE yang hendak menyelenggarakan kegiatan secara virtual dengan teknologi canggih, Leonard mengatakan bahwa yang harus diinovasikan adalah interaksi pihak yang terlibat.

“Kalau desain industri MICE 2021 seperti ingin menciptakan aplikasi, itu harus desain User Interface (UI) dan User Experience (UX) bagaimana,” tuturnya.

Apabila platform yang digunakan mengarah pada konsep gamifikasi, dia yakin orang-orang B2B kemungkinan bisa tidak akan berminat.

Baca juga: 2 Destinasi MICE Favorit di Indonesia

Hal ini karena jika kegiatan MICE dilakukan secara langsung, mereka datang ke pameran untuk melakukan bisnis.

“Saya percaya pameran virtual 2021 atau pasca-pandemi bukan soal tiga dimensi, tapi bagaimana kita mendesain interaksi,” ujar Leonard.

“Jangan bikin sesuatu yang tidak realistis. Interaksi harus asli, pembicaraan harus asli. Kita mau pertemukan supply dan demand,” sambungnya.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X