Kompas.com - 01/04/2021, 11:12 WIB

KOMPAS.com – Kabar soal pariwisata Bali yang akan dibuka bagi wisatawan mancanegara (wisman) berembus kembali setelah Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengisyaratkan hal tersebut saat meninjau kegiatan vaksinasi di Gianyar, Bali pada Selasa (16/3/2021).

Dalam rilis video yang Kompas.com terima, Selasa, Jokowi mengatakan bahwa pariwisata Bali akan dibuka sekitar Juni-Juli 2021 jika kondisi dan penanganan pandemi Covid-19 kian membaik.

“Agar semua mendukung. Agar tetap hati-hati. Nanti Juli lah (dibuka),” kata dia dalam pemberitaan Kompas.com, Selasa (16/3/2021).

Senada dengan Jokowi, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menkomarves) Luhut Binsar Pandjaitan juga mengatakan hal yang sama dalam keterangan tertulisnya, Jumat (26/3/2021).

Baca juga: Kadispar Soal Penerbangan Langsung India-Bali: Banyak Turis India ke Bali

Dalam keterangan tersebut, dia mengklaim bahwa jumlah kasus Covid-19 di Bali mengalami penurunan. Dia juga membuka kemungkinan bahwa sektor pariwisata Pulau Dewata akan dibuka kembali.

“Jumlah kasus (Covid-19) di Bali dalam beberapa minggu terakhir ini telah menunjukkan penurunan. Penurunan tersebut terjadi karena diberlakukannya kebijakan pendekatan terukur dengan memperhitungkan dua faktor krusial,” ungkap Luhut.

Faktor tersebut adalah memungkinkan kegiatan ekonomi untuk dilanjutkan dan menegakkan implementasi protokol kesehatan di seluruh Bali termasuk di tingkat desa.

Luhut menambahkan, sebelum wisman diizinkan berlibur ke Pulau Dewata, sosialisasi mengenai regulasi tata cara pariwisata di Bali perlu dilakukan untuk mereka yakni Penalty for Health Protocol.

Baca juga: Bali akan Sambut Turis Asing Juli 2021, Begini Persiapannya

“Aturan tersebut dengan tahapan awal sosialisasi dan publikasi mengenai praktik protokol kesehatan, pemantauan praktik protokol kesehatan, pelanggaran protokol kesehatan, peringatan pertama dengan diberlakukannya penalti administratif, hingga terakhir deportasi,” ujar dia.

Tanggapan dari pelaku pariwisata

Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kabupaten Gianyar, Pande Mahayana Adityawarman, mengatakan bahwa dia kaget saat mendengar kabar soal pembukaan kembali pariwisata Bali yang disampaikan Jokowi.

“Kalau yang dijadwalkan dulunya pertama September, kami berharapnya bisa dibuka di awal tahun tapi sekarang di tahun depan, lumayan berat untuk kami,” ungkapnya kepada Kompas.com, Selasa (16/3/2021).

Menurut dia, pandemi Covid-19 yang berlangsung selama satu tahun memberatkan pariwisata Bali karena kurangnya pendapatan. Terlebih, para pelaku industri masih harus membayar maintenance tempat dan upah kerja.

Baca juga: Turis Asing di Bali Nanti Hanya Boleh Jalan-jalan di Kawasan Tertentu

Sebab, sektor pariwisata adalah sumber penghasilan masyarakat Bali, meski tetap ada yang berkebun dan bertani. Mereka pun akan menjual hasil panen ke hotel dan restoran.

“Jika 90 persen masyarakat Bali sudah divaksin, bisa dicoba untuk trial pembukaan bandara untuk wisatawan internasional dengan tetap memberlakukan aturan penanganan Covid-19,” ujar Adit.

Ia mencontohkan, misal dari visa dan wisman melakukan karantina terlebih dahulu. Hal itu setidaknya membuka keran pintu masuk pariwisata Bali. Indonesia juga bisa mencontoh Uni Emirat Arab (UEA) yang sudah menyambut turis asing sejak 7 Juli 2020.

Dalam pembukaan pariwisata internasional, mereka menerapkan kebijakan cukup ketat, di antaranya syarat tes PCR sebelum keberangkatan dan juga tes PCR pada saat kedatangan.

Ilustrasi Bali - Pura Tanah Lot.SHUTTERSTOCK Ilustrasi Bali - Pura Tanah Lot.

Menurut informasi dalam Kompas.com, Kamis (18/2/2021), biaya tes PCR saat tiba di bandara sudah ditanggung pemerintah UEA, salah satunya di Bandara Ras Al Khaimah.

Menurut Adit, konsep seperti UEA dapat diterapkan terlebih dahulu di Pulau Dewata guna menggerakkan kembali sektor pariwisata sebagai tulang punggung perekonomian Bali.

Sementara itu, Pengamat pariwisata sekaligus Guru Besar Ilmu Pariwisata Universitas Udayana, I Gede Pitana, setuju jika Bali dibuka kembali untuk wisman.

“Saya setuju agar pariwisata di Bali digerakkan kembali, karena pemulihan ekonomi Bali itu hanya bisa melalui pariwisata,” tutur dia mengutip Kompas.com, Kamis (18/2/2021).

Baca juga: 5.600 Petugas Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali Jalani Vaksinasi Covid-19

Meski begitu, Pitana menyarankan pemerintah berkonsentrasi terlebih dahulu pada pariwisata dalam negeri. Sebab, ada banyak hambatan jika berharap kepada wisman saat ini, mulai hambatan ekonomi, fisik, hingga politik, kecuali jika program travel bubble sudah ada.

Respons Kemenparekraf dan Dinas Pariwisata Bali

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Uno memberi tanggapan soal dibukanya penerbangan internasional di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai.

Mengutip Kompas.com, Selasa (23/3/2021), dia mengatakan bahwa sebelum wisman diizinkan ke sini, bandara tersebut akan melalui sejumlah tahapan simulasi terlebih dahulu.

“Pada intinya kita akan latihan terus karena kita tidak bisa langsung buka pada Juni-Juli. Kita harus ada simulasi-simulasi terus dan kesiapan bandara harus terus ditingkatkan. Harus ada trial, harus ada pilot project dan harus ada beberapa tahapan,” tuturnya.

Dalam simulasi tersebut, pihaknya akan menyiapkan sejumlah rencana program agar seluruh pihak terkait lebih siap menyambut wisman.

Baca juga: PHRI Gianyar: Harapan Pariwisata Bali Bisa Buka Tahun Ini, Bukan 2022

Kemudian pada Minggu (28/3/2021), Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Bali Putu Astawa memberi tanggapan soal dibukanya kembali pariwisata Bali kepada wisman.

“Kalau dari pak Gubernur saya belum dengar, tapi pak presiden memang isyaratkan dibuka Juni-Juli 2021 kalau Covid-19 sudah landai,” ungkapnya.

Saat ini, pihak Putu tengah melakukan berbagai upaya agar Bali sudah sangat siap untuk menerima kembali wisman pada waktu yang ditentukan jika hal tersebut benar terjadi.

Ilustrasi Bali - Umat Hindu Bali yang sedang berada di area pura di Kabupaten Buleleng, Bali.SHUTTERSTOCK / Judith Lienert Ilustrasi Bali - Umat Hindu Bali yang sedang berada di area pura di Kabupaten Buleleng, Bali.

Salah satu yang sedang dilakukan adalah pemberian sertifikasi CHSE kepada 975 pelaku pariwisata mulai dari hotel, restoran, transportasi, hingga obyek wisata oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov) dan Pemerintah Kabupaten (Pemkab).

“Dari pemerintah pusat ada 800-an. Tapi di antara 800-an, ada yang beririsan dengan yang sudah diberikan (Pemprov dan Pemkab). Lebih dari seribuan yang diberikan sertifikasi CHSE sudah siap (protkol kesehatan),” kata Putu.

Ada juga program vaksinasi bagi pelaku pariwisata di Bali yang sudah memiliki sekitar 100.000 pendaftar meski baru sekitar 10.000-an yang telah divaksin.

“Vaksin yang terhambat karena dari pusat belum lancar pengiriman ke kita, masih sedikit-sedikit. Tapi untuk yang di Zona Hijau sudah dilakukan,” tuturnya.

Baca juga: Nomad Staycation di Bali, Kemenparekraf Rumuskan Long Term Visa untuk Turis Asing

Zona Hijau yang dimaksud adalah Ubud, Nusa Dua, dan Sanur. Ketiganya sudah menerima 170.487 dosis vaksin dengan 47.045 dosisi diberikan kepada Ubud, 87.715 ke Nusa Dua, dan 35.727 ke Sanur sejak Senin (22/3/2021).

Terkait seperti apa konsep penerimaan wisman, Putu mengungkapkan bahwa hal tersebut merupakan kebijakan dari pemerintah pusat. Namun, dia mengatakan bahwa syarat wisman untuk liburan ke Bali kemungkinan akan sama dengan syarat dalam travel bubble Bali-China.

“Ini domainnya pusat, pak Sandiaga. (Penyesuaian tergantung) negara yang disasar, kemudian bagaimana perlakuannya setelah di bandara, bagaiman apply visa. Kurang lebih sama, tapi akan ada penyesuaian,” tutur dia.

Baca juga: Bali, Batam, dan Bintan Akan Jadi Pintu Masuk Wisman Long Term Visa

Menurut berita Kompas.com, Senin (1/3/2021), disebutkan bahwa syarat bagi wisman yang tiba melalui koridor perjalanan Bali-China harus memenuhi syarat sudah vaksin, bawa surat keterangan negatif Covid-19, dan ikut tes Covid-19 lagi di Bandara I Gusti Ngurah Rai.

Jika hasilnya negatif, wisman dapat menginap di hotel-hotel yang ada dalam program travel bubble. Jika ingin jalan-jalan, mereka hanya diizinkan di Zona Hijau Bali.

Finalisasi Safe Travel Corridor Arrangement

Saat melakukan Weekly Press Briefing di Gedung Sapta Pesona, Jakarta, pada Senin (29/3/2021), Sandiaga mengungkapkan kabar terbaru yakni pihaknya terus memasuki tahap finalisasi dari segi persiapan Safe Travel Corridor Arrangement.

“Kami terus memasuki tahap finalisasi dari segi persiapan Safe Travel Corridor Arrangement di Bali, Batam, dan Bintan. Di Bali ada tiga daerah, yakni Nusa Dua, Sanur, dan Ubud,” katanya terkait penyambutan kembali wisman.

Adapun, daerah-daerah yang masuk dalam Safe Travel Corridor Arrangement merupakan daerah yang tergolong sebagai Zona Hijau.

Dalam berita Kompas.com pada Kamis (18/3/2021), disebutkan bahwa Kemenparekraf bekerja sama dengan Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) dalam merampung kebijakan konsep koridor perjalanan.

Ilustrasi Bali - Bukit Mende di Desa Subaya, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, Bali.SHUTTERSTOCK / W. SLASTRA Ilustrasi Bali - Bukit Mende di Desa Subaya, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, Bali.

Selain itu, pihak Sandiaga juga sudah melakukan rapat koordinasi virtual pada awal Maret 2021 bersama Sekretaris Jenderal Kemenlu Yohanes Kristiarto Soeryo Legowo.

Rapat juga dihadiri oleh beberapa duta besar negara yang menjadi pasar besar bagi Indonesia seperti negara-negara di Eropa, Timur Tengah, Asia, dan Australia.

Jalur masuk wisman ke Indonesia

  • Koridor perjalanan

Sandiaga mengatakan, nantinya wisman hanya dapat masuk ke Bali melalui Safe Travel Corridor Arrangement yang hingga saat ini masih terus dirundingkan dan masuk tahap finalisasi.

Meski begitu, hingga saat ini belum ada informasi lebih lanjut negara mana saja yang penduduknya diizinkan untuk berlibur ke Bali.

Akan tetapi, dalam berita Kompas.com pada Februari 2021, tepatnya Kamis (25/2/2021), Wakil Gubernur Bali Tjokorda Oka Artha Ardana mengungkapkan rencana program travel corridor Bali-China.

Baca juga: Bali Jadi Destinasi Paling Diminati di Indonesia Awal Tahun 2021

Dia menyampaikan hal tersebut saat menjadi seorang pembicara dalam webinar yang diselenggarakan oleh Asita (Association of the Indonesian Tours and Travel Agencies) bertajuk “Kapan Bali Buka Border?”.

“Sasaran wisatawan asing tersebut adalah wisatawan Tiongkok yang kita ketahui bahwa negara tersebut telah berhasil keluar dari pandemi karena program vaksinasi yang berhasil. Jadi kita mendatangkan mereka,” kata dia.

  • Visa jangka panjang dan koridor perjalanan

Selain sedang menggagas koridor perjalanan, Sandiaga mengatakan bahwa saat ini pihaknya juga sedang menggodog program long term visa atau visa jangka panjang. Melansir Kompas.com, Selasa (30/3/2021), program itu dikerjakan  Kemenparekraf dan beberapa pihak terkait termasuk Ditjen Imigrasi.

Long term visa diharap tidak hanya mendobrak dari sisi kualitas turis, dalam waktu kunjungan, tapi dari tingkat pengeluaran,” ujarnya dalam Weekly Press Briefing di Gedung Sapta Pesona, Jakarta, Senin (29/3/2021).

Program tersebut diharap dapat mendorong para wisman untuk berinvestasi di Indonesia lantaran mereka berlibur di Nusantara untuk waktu yang lama.

Ilustrasi wisatawan sedang liburan di Pantai Kelingking, Nusa Penida, Bali. SHUTTERSTOCK/GUITAR PHOTOGRAPHER Ilustrasi wisatawan sedang liburan di Pantai Kelingking, Nusa Penida, Bali.

Menurut Sandiaga, investasi tersebut dapat dilakukan untuk menggerakkan usaha atau juga menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat Indonesia.

“Baru ada laporan hasil dari rapat koordinasi bersama Menkomarves pak Luhut beberapa hari lalu, pemerintah mendukung secara totalitas langkah untuk memberi long term visa,” papar dia.

Lewat visa jangka panjang, wisman hanya diizinkan masuk melalui koridor perjalanan yang sudah ada. Destinasi wisata yang diizinkan untuk didatangi pun hanya destinasi dalam Safe Travel Corridor Arrangement.

Sandiaga menyebutkan, destinasi-destinasi wisata yang dapat dikunjungi nantinya adalah Ubud, Nusa Dua, dan Sanur di Bali, serta Nongsa Point dan Lagoi di Kepulauan Riau.

Baca juga: Long Term Visa, Harapan untuk Tingkatkan Pengeluaran Turis Asing

Adapun, perumusan program visa jangka panjang sudah disampaikan oleh Sandiaga pada Februari menurut Kompas.com, Senin (8/2/2021).

Program ini akan menyasar pebisnis wisatawan yang akan masuk ke Indonesia selama 3-4 bulan per tahun. Tepatnya saat berlangsungnya musim dingin di negara mereka.

“Konsepnya visa long term stay second home untuk visa lima tahun, mereka mendepositkan uang mereka Rp 2 miliar. Kalau keluarga Rp 2,5 miliar,” jelas Sandiaga.

Nantinya, para pemilik visa jangka panjang ini boleh berinvestasi di Indonesia. Visa tersebut akan diperbarui setiap lima tahun.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Jangan Beri Uang Tip ke Pramugari, Akibatnya Bisa Merugikan

Jangan Beri Uang Tip ke Pramugari, Akibatnya Bisa Merugikan

Travel Tips
Korea Selatan Kembali Terbitkan Visa untuk Turis Asing per 1 Juni

Korea Selatan Kembali Terbitkan Visa untuk Turis Asing per 1 Juni

Travel Update
Pantai Tureloto di Nias Utara, Dikenal sebagai Laut Matinya Indonesia

Pantai Tureloto di Nias Utara, Dikenal sebagai Laut Matinya Indonesia

Jalan Jalan
Wisata ke Malaysia Kini Tidak Perlu Tes PCR, Asuransi, dan Karantina

Wisata ke Malaysia Kini Tidak Perlu Tes PCR, Asuransi, dan Karantina

Travel Update
Motif Batik Larangan Keraton yang Tak Boleh Dipakai Orang Biasa

Motif Batik Larangan Keraton yang Tak Boleh Dipakai Orang Biasa

Jalan Jalan
Panduan Wisata Kedai Sawah Sembalun Lombok Timur, Fasilitas, Jam Buka, dan Rute 

Panduan Wisata Kedai Sawah Sembalun Lombok Timur, Fasilitas, Jam Buka, dan Rute 

Travel Update
Masih Ada Long Weekend Mei 2022, Bisa Libur 4 Hari dengan Cara Ini

Masih Ada Long Weekend Mei 2022, Bisa Libur 4 Hari dengan Cara Ini

Travel Tips
Kreativitas Pemuda Desa Bangun Wisata Bukit Porong NTT yang Sukses Menangi Penghargaan

Kreativitas Pemuda Desa Bangun Wisata Bukit Porong NTT yang Sukses Menangi Penghargaan

Travel Update
Mulai 1 Juni 2022, Masuk Thailand Hanya Perlu 3 Syarat Ini

Mulai 1 Juni 2022, Masuk Thailand Hanya Perlu 3 Syarat Ini

Travel Update
4 Wisata Banyuwangi dengan Nuansa KKN di Desa Penari 

4 Wisata Banyuwangi dengan Nuansa KKN di Desa Penari 

Travel Update
Kawah Ijen via Bondowoso, Perjalanan Melalui Kaldera Gunung Api Purba

Kawah Ijen via Bondowoso, Perjalanan Melalui Kaldera Gunung Api Purba

Jalan Jalan
Citilink Tambah Rute dari Medan ke Aceh, Gunungsitoli, dan Sibolga PP

Citilink Tambah Rute dari Medan ke Aceh, Gunungsitoli, dan Sibolga PP

Travel Update
Panduan Car Free Day Jakarta, Khusus untuk Olahraga dan Tanpa PKL  

Panduan Car Free Day Jakarta, Khusus untuk Olahraga dan Tanpa PKL  

Travel Tips
Syarat Naik Pesawat Super Air Jet per 18 Mei 2022

Syarat Naik Pesawat Super Air Jet per 18 Mei 2022

Travel Update
Syarat Bawa Laptop dan Powerbank ke Pesawat Lion Air, Batik Air, dan Wings Air

Syarat Bawa Laptop dan Powerbank ke Pesawat Lion Air, Batik Air, dan Wings Air

Travel Update
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.