Kompas.com - 06/05/2021, 15:31 WIB

KOMPAS.comKementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif bekerja sama dengan Badan Pengelola Masjid Istiqlal (BPMI) untuk mengembangkan wisata halal di Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat.

Selain sebagai tempat ibadah, masjid yang dibangun dari tahun 1961 itu dinilai berpotensi sebagai destinasi wisata religi yang menarik bagi wisatawan lokal dan mancanegara.

Baca juga: Tantangan Menghidupkan Kembali Wisata Halal di Indonesia

Pada hari Rabu (5/5/2021), Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno dan Imam Besar Masjid Istiqlal K H Nasaruddin Umar menandatangani nota kesepahaman (MoU) di Gedung Sapta Pesona, Jakarta Pusat.

“Masjid Istiqlal sudah menjadi ikon Indonesia. Sebab, banyak turis sebelum pandemi berkunjung ke Indonesia untuk melihat indahnya Masjid Istiqlal. Sudah banyak juga kepala negara yang berkunjung ke Masjid Istiqlal,” kata Sandiaga menurut rilis yang diterima Kompas.com, Rabu.

Ia menginginkan empat pilar Kemenparekraf dapat diwujudkan melalui kerja sama tersebut, yaitu destinasi, kelembagaan dan industri, pemasaran, dan ekonomi kreatif.

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno (kiri) dan Imam Besar Masjid Istiqlal K.H. Nasaruddin Umar (kanan) setelah menandatangani nota kesepahaman pengembangan wisata halal di Masjid Istiqlal pada Rabu, 5 Mei, 2021 di Gedung Sapta Pesona, Jakarta Pusat.Dok. Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno (kiri) dan Imam Besar Masjid Istiqlal K.H. Nasaruddin Umar (kanan) setelah menandatangani nota kesepahaman pengembangan wisata halal di Masjid Istiqlal pada Rabu, 5 Mei, 2021 di Gedung Sapta Pesona, Jakarta Pusat.

Adapun, beragam kegiatan yang dapat dilakukan pengunjung adalah wisata kuliner dan wisata belanja produk lokal halal di pelataran masjid.

Sementara itu, Nasaruddin Umar menyatakan kesiapannya untuk membuat program guna mendukung sektor parekraf Indonesia.

“Kita juga nantinya akan mengadakan festival seperti festival musik spiritual. Misalnya grup-grup salawatan dari Turki. Dan tidak hanya Islam, tapi juga menampilkan grup spiritual dari negara-negara lain,” ujar dia.

Baca juga: Sejarah Masjid Istiqlal, Masjid Terbesar di Asia Tenggara

Mengutip Kompas.com, masjid yang dikenal sebagai masjid terbesar se-Asia Tenggara tersebut menempati lahan seluas 9,5 hektar yang dulunya termasuk kawasan Taman Wilhelmina.

Proses pembangunan masjid ini memakan waktu sekitar 17 tahun dan selesai pada tahun 1978.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.