Kompas.com - 06/01/2022, 21:35 WIB
Galeri di Kampung Batik Giriloyo, Yogyakarta, pada Jumat (17/12/2021). KOMPAS.com/Ni Nyoman WiraGaleri di Kampung Batik Giriloyo, Yogyakarta, pada Jumat (17/12/2021).

Terdampak pandemi Covid-19 

Pandemi Covid-19 menyebabkan Kampung Batik Giriloyo melakukan penyesuaian.

Pada Maret 2020, tempat ini ditutup, lalu dibuka kembali pada September hingga akhir tahun 2020. Namun, tempat ini terpaksa tutup lagi pada awal tahun 2021 hingga September 2021. 

"September sampai sekarang mulai ada transaksi, walaupun belum seperti sebelum pandemi. Kalau penurunan dilihat dari tahun 2020 untuk penjualannya sekitar 90 persen penurunannya. Jauh sekali karena kan tutup," kata Diah.

Sementara itu, menurut Wasihatun, omzet tertinggi mereka terjadi sebelum pandemi melanda. 

"Di tahun 2019 omzet di galeri ini dari batiknya, bukan dari belajar paketan batik, hampir setengah miliar lebih. Satu tahun. Itu bahkan hampir mencapai satu miliar kurang sedikit," kata Wasihatun. 

Baca juga: Berkat Batik, Desa Giriloyo Yogya Bangkit Pasca-gempa

Kampung Batik Giriloyo juga berdaptasi dengan situasi yang ada, mulai dari menerapkan protokol kesehatan di tempat wisata hingga vaksinasi untuk seluruh perajin.

Kendati demikian, Diah mengungkapkan bahwa pemasaran masih menjadi kendala yang mereka hadapi.

"Kalau produk kita satu bulan misalnya bisa mengumpulkan 600, yang terjual belum tentu bisa sebanyak itu. Kemudian penghasilannya juga kecil sebagai perajin batik," ujar Diah.  

Ilustrasi kegiatan membatik yang ada di Kampung Batik Giriloyo, Yogyakarta, pada Jumat (17/12/2021).KOMPAS.com/Ni Nyoman Wira Ilustrasi kegiatan membatik yang ada di Kampung Batik Giriloyo, Yogyakarta, pada Jumat (17/12/2021).

Sebagai informasi, sehelai kain batik bisa dijual mulai dari Rp 500.000 hingga Rp 3 jutaan. Ada juga syal batik dengan harga mulai dari Rp 250.000.

Masalah pemasaran tersebut juga ditambah dengan adanya masalah regenerasi. 

"Kalau dulu awalnya sampai 1.000 orang dari tahun ke tahun ternyata semakin ke sini semakin berkurang perajinnya. Untuk survei terakhir tahun 2019, jumlahnya sekitar 600 (orang) yang masih aktif," katanya.

Saat ini, perajin batik di Kampung Batik Giriloyo seluruhnya perempuan dengan rata-rata usia 30 tahun ke atas. 

Baca juga: Desa Giriloyo, Setia Melestarikan Batik Tulis

Ia melanjutkan, ketika kondisi ekonomi membaik, sehingga beberapa warga bisa meraih pendidikan yang lebih tinggi, terjadi pergeseran profesi ketika mereka lulus. 

"Mungkin ada suatu pergeseran yang dulu orang tuanya sebagai pembatik mungkin anak perempuannya bergeser (profesi). Jadi berkurang, berkurang, seperti itu," tuturnya. 

Meski demikian, berdasarkan apa yang ia lihat selama ini, warga setempat yang sudah berkeluarga dan tidak bekerja di kantor atau di pabrik lagi, akan kembali menjadi perajin batik sambil menjaga anak-anaknya di rumah. 

Dengan menjadi perajin batik, mereka mendapat tambahan penghasilan untuk keluarga. 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.