Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Tren Pariwisata Indonesia Menurut Google, Healing Jadi Kata Populer

Kompas.com - 26/09/2022, 17:16 WIB
Faqihah Muharroroh Itsnaini,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Pada tahun 2022, kata healing menjadi suatu konsep baru untuk menyebut traveling atau perjalanan di Indonesia, terbukti dari tingginya pemakaian kata tersebut.

Penelusuran topik travel di Google Search yang mengandung kata healing naik hingga 500 persen (YoY), dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya.

Baca juga:

"Orang Indonesia menyebut traveling itu healing, kata travel-nya bahkan enggak disebut. Jadi banyak ngomongnya bukan 'Aku traveling ke Bali, tapi aku lagi healing ke Bali', atau healing trip ke mana," ujar Travel Industry Analyst Google Indonesia, Vania Anindiar, dalam Press Briefing Google World Tourism Day virtual, Senin (26/9/2022).

 

"Jadi healing kayak menggantikan kata traveling. Dalam pembicaraan baik virtual ataupun verbal," imbuhnya.

Baca juga: Ide Road Trip 4 Hari di Bali, Cocok Buat Self-Healing

Fenomena ini, kata Vania, saat disampaikan kepada para pengamat perjalanan di luar negeri, mereka tertarik dengan fakta bahwa orang-orang Indonesia banyak yang mengganti kata traveling menjadi healing.

Healing sebagai konsep perjalanan yang lebih bermakna

Ilustrasi wisatawan di Nusa Penida, Bali.Dok. UNSPLASH/Alfiano Sutianto Ilustrasi wisatawan di Nusa Penida, Bali.

Menurut interpretasi pihaknya, setelah pandemi Covid-19, kata healing seolah terasa menjadi lebih penting dibandingkan hanya berjalan-jalan mengunjungi tempat baru.

“Makna bepergian kini jadi lebih dalam, tak lagi sekadar menjadi aktivitas untuk melihat tempat-tempat baru atau main. Ini adalah bentuk perawatan diri, momen refleksi, meditasi, dan memperbaiki kesehatan jiwa," tutur Vania. 

Adapun kata healing yang naik 500 persen dibandingkan tahun lalu, sebenarnya menunjukkan bahwa kata ini sudah dipakai sejak sebelum-sebelumnya.

Baca juga: 6 Wisata di Ubud yang Cocok untuk Self Healing

Namun, data dari Google menunjukkan kalimat pencarian kata healing pada 2021 sangatlah berbeda dengan pencarian kata yang sama pada 2022. 

"Pas 2021, orang nyari kata healing itu ya healing yang umum, self healing, trauma healing, healing artinya. Tapi di 2022, kata healing banyak dikaitkan dengan perjalanan," terangnya. 

Beberapa pencarian, seperti "tempat healing", "healing di Bandung", "liburan healing", "healing Jogja", "healing ke pantai", menjadi beberapa pencarian terpopuler pada 2022.

Baca juga: Bandung Jadi Destinasi Paling Populer 2021 Versi Google Trends

Dampak pencarian "desa wisata"

Desa Wisata Ululoga di Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur.Dok. Jadesta Desa Wisata Ululoga di Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur.

Lebih lanjut, Vania menjelaskan, kepopuleran tema healing membuat tingginya pencarian tujuan wisata yang lebih damai, terpencil, atau masih sepi peminat. 

"Ada minat yang lebih tinggi dari masyarakat untuk mencari tempat liburan yang lebih sepi, lebih santai, damai, mungkin enggak terlalu banyak atraksi atau obyek wisata yang terkenal. Jadi tempat agak terpencil misalnya buat yoga, meditasi, dan lainnya," kata dia. 

Baca juga: Delegasi G20 Berkunjung ke Desa Wisata Penglipuran di Bali

Hal ini, menurut Vania, terefleksikan dalam peningkatan pencarian dalam kata yang mengandung "desa wisata", hingga tumbuh sampai 68 persen. 

"Jadi desa wisata sudah ada dari 2020, tapi minat masyarakat baru mulai menanjak sekali pada 2022," jelas Vania.

Berkaitan dengan hal itu, destinasi luar ruangan (outdoor) yang dinilai cocok untuk healing, juga mengalami peningkatan pencarian. Seperti pantai naik 26 persen, taman 19 persen, danau 13 persen, dan gunung tujuh persen. 

Baca juga: Desa Wisata Tepus Gunungkidul Diharapkan Jadi Desa Wisata Kelas Dunia

Peningkatan pencarian pada destinasi tertentu

Menikmati kopi di Kintamani sambil ditemani pemandangan Gunung Batur. (Wonderful Image)Wonderful Image Menikmati kopi di Kintamani sambil ditemani pemandangan Gunung Batur. (Wonderful Image)

Tak hanya itu, beberapa daerah tujuan wisata yang sebelumnya tidak terpikirkan langsung oleh wisatawan, kini ternyata sangat dicari oleh masyarakat. 

Beberapa contoh tempatnya, seperti Kintamani naik 64 persen, Lombok 34 persen, Danau Toba 26 persen, Sabang 22 persen, Ijen 30 persen, Singkawang 33 persen, dan Bunaken 23 persen. 

"Kayak Kintamani, Lombok, Danau Toba, Ijen, meningkatnya tinggi sekali, semua di atas 20 persen dibandingkan tahun lalu. Jadi ini kami melihat efek dari tren healing ke tujuan wisata yang populer," pungkasnya. 

Baca juga: Menemukan Hidden Gem di Pulau Weh, Surga bagi Penggemar Fotografi

Senada, Co-Founder & CMO tiket.com, Gaery Undarsa, mengatakan bahwa tempat-tempat yang sebelumnya tidak mainstream, kini mulai mengalami peningkatan. 

Jadi, kata dia, selain destinasi yang populer seperti Bali, Yogyakarta, Bandung, dan lainnya, ada beberapa destinasi baru yang secara spesifik naik menjadi favorit. 

"Beberapa destinasi yang baru, yang sebelumnya belum ada, seperti Banyuwangi, Banten, atau daerah-daerah spesifik kayak Kintamani, Kawah Ijen. Hal ini membuat destinasi yang baru atau enggak common, jadi meningkat," ujar Gary. 

Selain itu, kata dia, tren staycation atau liburan dekat rumah menjadi populer sebagai bentuk healing masyarakat dari kelelahan setelah terisolasi dan ingin menemukan lebih banyak lagi hidden gem di Indonesia. 

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com