Kompas.com - 13/11/2020, 12:17 WIB
Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif bersama dengan BOPLBF melaksanakan famtrip dengan media di kawasan Taman Nasional Komodo, Labuan Bajo, Manggarai Barat, NTT, Minggu, (13/9/2020). (HANDOUT/BOPLBF) HANDOUT/BOPLBFKementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif bersama dengan BOPLBF melaksanakan famtrip dengan media di kawasan Taman Nasional Komodo, Labuan Bajo, Manggarai Barat, NTT, Minggu, (13/9/2020). (HANDOUT/BOPLBF)

 

2. Koordinasi dengan instansi terkait

Selanjutnya, sinyal bahaya yang dipancarkan EPIRB akan ditangkap oleh satelit SAR. Sinyal tersebut kemudian diteruskan ke local user terminal yang dimiliki oleh Badan SAR Nasional (Basarnas).

Selanjutnya petugas Basarnas Command Center (BCC) yang siaga 24 jam akan menindaklanjuti sinyal marabahaya tersebut. Mereka akan memerintahkan kantor SAR Maumere untuk menindaklanjuti penanganan kondisi tersebut.

Kantor SAR Maumere kemudian menghubungi Posko Terpadu untuk berkoordinasi terkait penanganan sinyal marabahaya tersebut.

Posko Terpadu pun menginformasikan pada Basarnas tentang permintaan bantuan dari kapal Azymut dengan posisi yang jelas. Mereka meminta bantuan Basarnas untuk melakasanakan operasi SAR.

Baca juga: Air Terjun Cunca Jami yang Masih Tersembunyi di Sekitar Labuan Bajo

3. Proses evakuasi udara

SAR Mission Coordinator (SMC) yang adalah SAR Maumere segera mengerahkan unsur SAR terpadu untuk melaksanakan operasi pencarian dan pertolongan.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Unsur tersebut terdiri dari SAR Labuan Bajo, TNI, Polri, otoritas pelabuhan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan potensi SAR yang lain.

SMC mengerahkan operasi darat, laut, dan udara. Unsur udara terdiri dari helikopter Basarnas. Operasi yang pertama kali dilakukan adalah operasi dari unsur udara.

Pasalnya dalam situasi darurat waktu adalah faktor yang sangat penting untuk menyelamatkan survivor. Karena dengan helikopter bisa menghemat banyak waktu, maka tim helikopter rescue jadi yang pertama digerakkan.

Baca juga: Yuk, Simak 3 Ide Wisata Berkelanjutan di Labuan Bajo

Survivor diperlihatkan menyalakan flare berwarna merah untuk memberi tanda di mana posisi mereka pada helikopter yang mendekat.

Setelah posisi survivor ditemukan, rescuer atau penyelamat dari dalam helikopter bersiap turun ke laut.

Ada dua teknik penyelamatan yang disimulasikan di sini. Pertama yakni dengan cara free jump. Penyelamat akan turun ke laut dengan cara melompat dari helikopter. Mereka lalu berenang hingga menemukan dan mencapai survivor untuk diangkut ke atas.

Setelah ditemukan, teknik kedua pun dilakukan. Yakni teknik hoisting yang menggunakan kabel khusus. Kabel ini akan mengangkat survivor dan rescuer ke atas helikopter.

Rescuer menunjukkan teknik tandem, di mana ia dan satu survivor diangkat bersamaan dengan kabel ke atas helikopter. Teknik ini dilakukan untuk menyelamatkan satu korban.

Korban tersebut harus berada dalam kondisi sadar dan tidak mengalami luka atau cedera serius.

Baca juga: 10 Tempat Wisata di Labuan Bajo, Bisa ke Mana Saja?

Halaman Selanjutnya
Halaman:


26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.