Sampai Mati Kristoforus Kolombus Tak Menemukan Pulau Rempah

Kompas.com - 28/08/2017, 14:05 WIB
Dalam lukisan karya Eugene Lacroix (1798 – 1863) ini, digambarkan Christoforus Colombus menghadap Raja Ferdinand dan Ratu Isabella dari Spanyol sambil membawa beberapa orang Indian hasil ekspedisinya ke Dunia Baru. WikipediaDalam lukisan karya Eugene Lacroix (1798 – 1863) ini, digambarkan Christoforus Colombus menghadap Raja Ferdinand dan Ratu Isabella dari Spanyol sambil membawa beberapa orang Indian hasil ekspedisinya ke Dunia Baru.
|
EditorSri Anindiati Nursastri

JAKARTA, KOMPAS.com - Konon di Timur nun jauh, ada pulau yang tanahnya subur. Dari tanah itu tumbuh pohon pala (Myristica fragrans) dan cengkeh (Syzygium aromaticum). Itulah Pulau Rempah atau disebut Spice Island oleh bangsa Eropa. Tak lain, pulau itu adalah Kepulauan Maluku yang saat ini berada di Indonesia.

Informasi itu diterima oleh bangsa Eropa dari para pedagang Arab, Gujarat, dan China, setiap kali ada yang bertanya "Di manakah pulau penghasil cengkeh dan pala?"

BACA: Mengapa Rempah-rempah Begitu Diburu pada Zaman Dahulu?

Tentu saja para pedagang Arab, Gujarat, dan China hanya menyebut "nun jauh di Timur". Bahkan tak sedikit yang memberi informasi asal. Seperti barter dengan jin, ada Dajjal (pembawa kiamat ) di sana, dan masih banyak lainnya. Toh pala dan cengkeh adalah komoditas berharga yang dijual mereka ke bangsa Eropa.

Jack Turner dalam bukunya "Sejarah Rempah dari Erotisme sampai Imperialisme" (2011) menjelaskan bahwa makelar rempah biasa membawa rempah dari Timur ke Barat. Sesampainya di Eropa, harga rempah tersebut naik 1.000 persen.

Nilai rempah yang begitu tinggi akhirnya tak dapat membendung keinginan bangsa Eropa untuk mencari lokasi sumber rempah. Abad ke-15 menjadi momentum pencarian Pulau Rempah oleh bangsa Eropa. 

BACA: Sama-sama Kaya Rempah, Apa Beda Masakan India dan Indonesia?

Salah satu penjelajah yang paling berambisi adalah penjelajah asal Italia, Kristoforus Kolombus. Pada 1492, Kolombus dibiayai oleh Kerajaan Spanyol untuk melakukan penjelajahan menemukan Pulau Rempah. Alih-alih menemukan Pulau Rempah, Kolombus justru sampai di sebuah benua baru yang dikiranya sebagai Hindia.

"April tanggalnya tidak diketahui (1493), Kolombus baru saja kembali dari Amerika walaupun ia tidak menyadari kenyataan sebenarnya pada saat itu. Menurut versinya adalah dia baru saja kembali dari Hindia, dan walau cerita yang ia sampaikan mungkin seperti roman picisan khas Abad Pertengahan, ia membawa berbagai bukti untuk menutup mulut orang-orang yang meragukannya: burung kakatua emas, hijau, dan kuning, orang-orang India, dan kayu manis," tulis Turner.

BACA: Santap Malam di Bekas Gudang Rempah Batavia

Belakangan diketahui jika di antara bukti yang dibawa Kolombus hanya burung kakatua yang asli. Sedangkan yang dianggap orang India adalah orang Karibia, dan kayu manis adalah kulit kayu pohon Karibia.

"Terlepas dari popularitasnya sebagai penemu benua Amerika dalam aspek ini apa yang telah dicapai Kolombus sebenarnya bukan kesuksesan total," tulis Turner.

Ia menjelaskan para penjelajah Spanyol juga menemukan berbagai bebatuan berharga di kuil-kuil dan altar Suku Aztec juga Inca. Namun harus dicatat tugas Kolombus tidak hanya mencari El Dorado (emas) tetapi juga El Picante (bumbu).

Kolombus kemudian berlayar untuk keempat kalinya menemukan Pulau Rempah di tahun 1502, tetapi hasilnya masih gagal. Empat tahun kemudian Kolombus meninggal, dengan misi penuh ambisi yang tak pernah selesai: menemukan Pulau Rempah.

Baca tentang


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X