Aturan Jaga Jarak di Pesawat Tidak Didukung, Kenapa?

Kompas.com - 14/05/2020, 07:20 WIB
Social distancing di kabin pesawat Airbus 320-200 Lion Air Group Dokumentasi Lion Air GroupSocial distancing di kabin pesawat Airbus 320-200 Lion Air Group

KOMPAS.comInternational Air Transport Association (IATA) mengumumkan, mereka tidak mendukung aturan jaga jarak sosial (social distancing) yang akan membuat kursi tengah pesawat kosong.

Kendati demikian, mengutip Japan Today, Minggu (10/5/2020), mereka mendukung penggunaan masker oleh penumpang dan kru pesawat.

Bukti yang ada menunjukkan penumpang dan kru pesawat yang menggunakan masker akan mengurangi risiko penularan di pesawat yang sudah rendah.

Sementara langkah jaga jarak sosial di pesawat akan meningkatkan biaya perjalanan udara. Hal inilah yang tengah dihindari.

"Keamanan kru dan penumpang merupakan yang paling penting. Industri penerbangan tengah bekerja dengan pemerintah untuk memulai kembali penerbangan saat hal itu bisa dilakukan secara aman," kata Director General dan CEO untuk IATA, Alexandre de Juniac, mengutip Japan Today.

“Bukti menunjukkan, risiko penularan di pesawat rendah. Kami akan mengambil langkah-langkah seperti penggunaan masker bagi penumpang, dan masker bagi kru pesawat untuk menambahkan lapisan perlindungan,” lanjutnya.

Baca juga: Aturan Maskapai Saat Corona: Jaga Jarak hingga Awak Kabin Pakai APD

Juniac juga menuturkan, mereka harus mendapatkan solusi yang memberi penumpang rasa percaya untuk terbang kembali, dan menjaga agar biaya penerbangan tetap terjangkau.

Menurutnya, jika hanya satu dari kedua hal tersebut yang terjadi, maka yang terjadi tidak akan memiliki manfaat jangka panjang.

Selain masker, IATA juga menyarankan beberapa hal untuk dilakukan yaitu sebagai berikut:

  • Pemeriksaan suhu penumpang, pekerja bandara, dan pelancong.
  • Pengurangan kontak dengan penumpang atau kru pesawat dalam proses naik dan turun dari pesawat.
  • Membatasi pergerakan dalam kabin sepanjang penerbangan.
  • Pembersihan kabin yang lebih sering dan lebih mendalam.
  • Prosedur katering yang lebih sederhana. Pergerakan kru pesawat dan interaksi dengan penumpang dikurangi.

“Lingkungan kabin secara alami membuat penularan virus sulit karena berbagai macam alasan. Ini membantu menjelaskan mengapa kami melihat sedikit sekali adanya transmisi dalam penerbangan,” kata Juniac.

Dia juga menuturkan, dalam jangka waktu dekat, tujuan mereka adalah membuat lingkungan kabin lebih aman dengan langkah-langkah yang efektif agar penumpang dan kru bisa kembali melakukan perjalanan dengan percaya diri.

Screening (suhu tubuh), penutup wajah, dan masker merupakan beberapa dari banyak tindakan yang direkomendasikan IATA. Namun mereka tidak merekomendasikan pengosongan kursi tengah.

Baca juga: 8 Maskapai Penerbangan Dunia Kembali Beroperasi Mulai Mei 2020

Awak kabisn Emirates gunakan alat pelindung diri saat bertugas di pesawatDok. Emirates Awak kabisn Emirates gunakan alat pelindung diri saat bertugas di pesawat
Survei informal IATA terhadap 18 maskapai penerbangan besar pada Januari – Maret 2020 hanya mengidentifikasi tiga cara dugaan transmisi virus corona saja. Semuanya berasal dari penumpang ke kru.

Sementara empat cara lain merupakan laporan transmisi jelas dari pilot ke pilot yang bisa saja terjadi saat sebelum, dalam, atau sesudah penerbangan termasuk saat pemberhentian en route (layover).

Tidak ada perumpamaan dugaan transmisi virus corona dari penumpang ke penumpang.

Pemeriksaan yang lebih terperinci oleh IATA dalam pelacakan kontak 1.100 penumpang dalam periode yang sama. Para penumpang tersebut terkonfirmasi virus corona setelah melakukan perjalanan udara.

Namun, pemeriksaan tersebut juga tidak menemukan transmisi sekunder di antara lebih dari 100.000 penumpang dalam penerbangan yang sama. Hanya dua kemungkinan kasus yang ditemukan di antara anggota kru.

Baca juga: Syarat Penumpang Pesawat dan Rute yang Dilayani Garuda Indonesia Saat Ini

Terdapat beberapa alasan yang masuk akal mengapa virus corona yang terutama disebarkan melalui tetesan pernapasan (droplet respitory) tidak menghasilkan transmisi dalam pesawat yang lebih banyak.

Ada juga alasan mengapa perjalanan udara berbeda dengan moda transportasi umum lainnya yaitu sebagai berikut:

  • Penumpang menghadap ke depan dengan interaksi tatap muka yang terbatas.
    Kursi menyediakan penghalang untuk transmisi ke depan atau ke belakang (aft) bagian pesawat.
  • Aliran udara dari atap ke lantai semakin mengurangi potensi transmisi ke depan dan ke belakang bagian pesawat.
  • Terlebih lagi, laju udara tinggi dan tidak kondusif bagi tetesan untuk menyebar dengan cara yang sama dalam ruang lingkup lainnya.

Filter High Efficiency Particulate Air (HEPA) dalam pesawat modern membersihkan udara kabin menjadi seperti kualitas dalam ruang operasi di rumah sakit. Filter tersebut juga selanjutnya dibantu dengan sirkulasi udara segar yang tinggi.

Terkait kursi tengah yang dikosongkan, jika dilakukan, hal tersebut tidak akan mencapai pemisahan yang direkomendasikan untuk jaga jarak sosial yang efektif.

Sebab, sebagian besar otoritas merekomendasikan jarak 1–2 meter, sementara jarak rata-rata kursi pesawat kurang dari 50 cm.

“Kami membutuhkan vaksin, paspor imunitas, atau tes Covid-19 efektif yang bisa diberikan dalam skala yang besar. Semua hal itu sangat menjanjikan. Namun, tidak ada yang akan direalisasikan sebelum kami harus memulai kembali industri penerbangan,” kata Juniac.

“Maka dari itu, kami harus siap dengan beberapa langkah. Kombinasi yang akan mengurangi risiko penularan dalam pesawat yang sudah rendah," lanjutnya.

Baca juga: Rute Domestik yang Dilayani Lion Air Saat Ini dan Syarat Penumpang Pesawat

Seruan akan langkah jaga jarak sosial dalam pesawat disebut akan menggeser ekonomi penerbangan dengan memotong faktor muatan maksimum menjadi 62 persen.

Hal tersebut berada jauh di bawah rata-rata yaitu 77 persen. Dengan sedikitnya kursi yang dijual, biaya akan meningkat dengan tajam.

Dibandingkan dengan tahun 2019, tarif pesawat harus naik secara dramatis hanya untuk menutup biaya. Tarif naik antara 43–54 persen tergantung wilayah.

“Maskapai penerbangan berjuang untuk kelangsungan hidup mereka. Menghilangkan kursi tengah akan meningkatkan biaya. Jika itu bisa diimbangi dengan tarif yang lebih tinggi, maka era perjalanan dengan biaya terjangkau akan selesai,” kata Juniac.

“Di sisi lain, apabila maskapai tidak bisa menutup biaya dengan tarif yang lebih tinggi, maka maskapai akan bangkrut,” lanjutnya.

Juniac menuturkan, tidak ada pilihan yang baik saat dunia akan membutuhkan konektivitas yang kuat untuk membantu dalam pemulihan ekonomi setelah dihancurkan oleh virus corona.

Baca juga: Astindo Keberatan Pemerintah Tak Libatkan Travel Agent dalam Penjualan Tiket Pesawat

Ilustrasi maskapai Delta Airlines. (Shutterstock) Ilustrasi maskapai Delta Airlines. (Shutterstock)

Aturan jaga jarak maskapai dunia

Beberapa maskapai penerbangan di dunia mengubah protokol penerbangan mereka guna menyesuaikan kondisi pandemi virus corona.

1. Air Canada

Per 15 Mei 2020, maskapai tersebut memulai kebijakan pemeriksaan temperatur non-kontak melalui infrared untuk semua penumpang. Suhu di atas 37,5 derajat celsius tidak diperbolehkan masuk ke pesawat.

Proses boarding juga dilakukan dengan meminimalisir potensi kontak antar-penumpang. Mereka juga mengharuskan penggunaan masker atau penutup wajah saat berada di gerbang check-in, selama proses boarding, dan selama penerbangan sejak 20 April lalu.

Masker bisa dilepas untuk makan, minum, penggunaan masker oksigen darurat, atau jika jarak aman sudah dianggap cukup oleh kru kabin.

Baca juga: Tempat Parkir Pesawat di Bandara Lithuania Difungsikan Jadi Bioskop Drive-In

2. Delta

Per 4 Mei 2020, mereka mengharuskan penggunaan masker sepanjang perjalanan bagi penumpang. Mulai dari lobi check-in hingga selama penerbangan kecuali saat makan.

Sementara petugas diwajibkan menggunakan masker, dan menjaga jarak aman minimal enam kaki dari satu sama lain. Mereka juga akan mengecek temperatur penumpang.

Jumlah penumpang yang bisa naik dalam setiap penerbangan dikurangi dengan menutup tempat duduk tengah di kelas ekonomi, Comfort Plus, dan kabin Premium Select.

Proses boarding dirubah dengan mengisi pesawat satu per satu berdasarkan baris dari belakang ke depan.

3. Emirates

Sejak April 2020, penumpang diwajibkan mengenakan masker. Sementara awak kabin diberikan alat pelindung termasuk gaun sekali pakai yang digunakan di luar seragam.

Mereka juga diberi masker, kacamata, dan sarung tangan. Mereka juga mengosongkan bangku antar-indivitu atau kelompok keluarga yang ada di pesawat.

Rapid tes virus corona dilakukan di Bandara Internasional Dubai sebelum proses boarding. Layanan makan dan minum dikurangi menjadi kotak bento personal untuk mengurangi kontak antar kru dan penumpang.

Baca juga: Masak Makanan Pesawat, Ini 3 Resep Inflight Meal Emirates

4. Lufthansa

Per 4 Mei 2020, penumpang diwajibkan membawa masker sendiri. Seperti masker kain, masker sekali pakai, atau syal.

Awak kabin seluruh maskapai grup Lufthansa termasuk Lufthansa, Swiss, Austrian Airlines, dan Eurowings diwajibkan pakai masker hingga 31 Agustus mendatang.

Kursi bagian tengah di kelas ekonomi dan ekonomi plus sudah ditutup.

5. United Airlines

Per 4 Mei 2020, semua penumpang wajib menggunakan masker. Mereka juga tidak bisa memilih tempat duduk yang ada di tengah dan tempat duduk yang berdampingan.

Tempat duduk juga dialihkan untuk menjaga jarak aman di kabin. Pilihan makanan dan minuman dirubah menjadi sudah dibungkus.

6. Garuda Indonesia

Majalah dan koran tidak disediakan karena menjadi media untuk perpindahan virus. Fasilitas bantal dan makan juga sudah diatur untuk mencegah penyebaran virus.

Per 21 Maret 2020, mereka telah menerapkan physical distancing. Mulai dari proses check-in hingga selama penerbangan.

Jika penumpang terlihat memiliki gejala demam, batuk, pilek, nyeri tenggorokan, atau sesak nafas, dan tidak memiliki surat kesehatan saat di boarding gate, mereka akan diarahkan untuk diperiksa lebih lanjut.

Di dalam pesawat, mereka ada kebijakan bahwa penumpangharus berjarak setidaknya satu kursi antar penumpang kecuali penumpang bepergian dengan keluarga dan tetap ingin duduk bersama.

Baca juga: Ragam Warna Seragam Pramugari Garuda Indonesia Punya Makna Tersendiri, Apa Saja?

7. Lion Air Group

Semua ketentuan penerbangan sudah diberlakukan selama pandemi virus corona ke Lion Air, Wings Air, dan Batik Air.

Tipe pesawat Boeing 737-800 NG, Boeing 737-900 ER, Airbus 320-200 CEO, dan Airbus 320-200 NEO pada kelas ekonomi yang berkonfigurasi 3-3, maka khusus kursi di tengah tidak dipergunakan atau ditandai dengan huruf "X".

Tamu atau penumpang akan duduk di dekat jendela dan lorong. Sementara untuk tipe pesawat ATR 72 dan kelas bisnis yang memiliki tata letak kursi 2-2, menggunakan metode saling silang atau zig-zag.

Selain itu, pengaturan jarak antar penumpang juga berlaku ketika berada di ruang tunggu dan pada saat proses boarding, baik saat menggunakan tangga belalai atau garbarata dan tangga biasa.

Pengaturan ini juga berlaku bagi penumpang yang berada di dalam bus saat menuju ke pesawat dan turun dari pesawat.



Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X