Kompas.com - 02/06/2022, 15:06 WIB

KULON PROGO, KOMPAS.com – Dua bule asal Belanda ngontel dari satu pedukuhan (dusun) ke pedukuhan lain di Kalurahan Banguncipto, Kapanewon Sentolo, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Keduanya mengayuh sepeda melintasi sawah, rel kereta api, keluar masuk rumah-rumah tradisional penduduk, hingga jalan perkampungan.

Baca juga: Kulon Progo Kembali Bikin Tiga Film Berlatar Tempat Wisata, Jadi Ajang Promosi

Hermen dan Linda merupakan wisatawan yang sedang dalam perjalanan wisata ke sejumlah destinasi Indonesia, dengan pilihan Jawa dan Bali. Salah satunya ke Dusun Bantar Kulon, Banguncipto, di mana ada Towilfiets atau aktivitas bersepeda ala Towil, yakni ngontel dengan sepeda tua.

“Ini pertama kali saya keluar dari Eropa untuk menikmati kawasan desa ini,” kata Hermen asal Doetinchem, Selasa (31/5/2022).

Towilfiets tidak asing bagi wisatawan mancanegara, apalagi turis Belanda. Fiets, yang dalam Bahasa Belanda berarti bersepeda, jadi akrab di telinga mereka. Towilfiets adalah wisata di pedesaan yang bisa dinikmati dengan cara bersepeda.

Laki-laki gondrong asal Boyolali bernama Muntowil atau Towil menjadi penggerak wisata bersepeda di desa. Towil memimpin para turis berkeliling dari Pedukuhan Bantar Kulon, rumah Towilfiets, ke berbagai dusun lain.

Baca juga: Berburu Oleh-oleh Khas Kulon Progo, Bisa ke Pasar Sentolo Baru

Dua bule dari negara Belanda keliling pedesaan di Kalurahan Banguncipto, Kapanewon Sentolo, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Keduanya menikmati keindahan pedesaan dan ramahnya warga menyambut mereka. Turis asing pun coba mampir ke warung jajanan di pinggir desa.KOMPAS.COM/DANI JULIUS Dua bule dari negara Belanda keliling pedesaan di Kalurahan Banguncipto, Kapanewon Sentolo, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Keduanya menikmati keindahan pedesaan dan ramahnya warga menyambut mereka. Turis asing pun coba mampir ke warung jajanan di pinggir desa.

Wisata bersepeda ini sejatinya tidak cuma berlelah-lelah mengayuh sepeda keliling desa semata. Towil mengajak turis mampir ke banyak tempat, utamanya rumah tradisional warga untuk melihat dari dekat kehidupan sederhana penduduk.

“Kekayaan desa yang luar biasa bagi saya. Jadi mengerti. Semakin (mereka) tahu, semakin menghargai semua itu,” kata Towil.

Baca juga: Calendar of Event 2022 Kulon Progo, Ada Ratusan Kegiatan Pendukung Pariwisata

Semua serba spontanitas. Tamu bule mampir di tengah kesibukan pekerjaan utama mereka. Warga malah menikmati kehadiran wisatawan yang sesekali mengabadikan aktivitas harian mereka dengan mengambil foto.

Salah satu penduduk tersebut adalah rumah Mujimen (62), yang tinggal di Pedukuhan Ploso. Mujinem adalah pengumpul kacang-kacangan kedelai dan kacang koro, bahan baku tempe.

Ada pula Musinem (63) yang memiliki rumah bentuk limasan dari bambu di mana ia sedang menenun stagen. Dua bule tersebut juga mampir ke rumah pasangan suami-istri Sidal dan Sumiyati yang sehari-hari menenun kain karung dari serat pohon gebang sejenis Palma.

Hermen dan Linda juga menyempatkan mampir ke warga yang tengah merontokkan kulit gabah jadi beras. Mereka mengabadikan semua aktivitas itu dalam gawai.

“Apa yang kita lihat, apa yang bisa kita edukasi ya akan kita sampaikan. Akan mengerti dan akan dimengerti pengetahuan seperti itu. Lihat kencur, daun jeruk, kapas, serai. Itu semua potensi lokal yang ada di sini,” kata Towil.

Baca juga: Kerukunan Antarumat Beragama di Wisata Kulon Progo Akan Jadi Sendratari

Dua bule dari negara Belanda keliling pedesaan di Kalurahan Banguncipto, Kapanewon Sentolo, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Keduanya menikmati keindahan pedesaan dan ramahnya warga menyambut mereka. Salah satunya di rumah Musinem pada pedukuhan atau dusun Ploso. Musinem membiarkan Linda, salh satu turis itu, mencoba menenun kain stagen.KOMPAS.COM/DANI JULIUS Dua bule dari negara Belanda keliling pedesaan di Kalurahan Banguncipto, Kapanewon Sentolo, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Keduanya menikmati keindahan pedesaan dan ramahnya warga menyambut mereka. Salah satunya di rumah Musinem pada pedukuhan atau dusun Ploso. Musinem membiarkan Linda, salh satu turis itu, mencoba menenun kain stagen.

Towil menemani Hermen dan Linda ngontel dengan sepeda tahun 1935 dan 1970.

Mereka mengayuh sepeda selama sekitar empat jam, dari pukul 08.00, sambil menikmati sudut pedesaan. Keduanya sempat beristirahat sambil ngemil panganan tradisional di gubuk petani di tengah sawah yang kebetulan kosong.

Baca juga: Hati-hati, Ini Titik Rawan Kecelakaan Saat Wisata di Kulon Progo

Pada suatu kesempatan, mereka mampir ke rumah Tri Suwarni (52) di Bantar Kulon hanya untuk melihat proses memasak ketupat. Mereka, kata Towil, tampak takjub mendengar penjelasan bahwa dibutuhkan waktu sekitar tiga jam untuk memasak ketupat.

“Kita datang. Kenalan. Salaman. Kita menyampaikan riil kehidupan masyarakat ini. Kita terangkan langsung,” kata Towil.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.