Menepi ke Ujung Kulon

Kompas.com - 12/05/2015, 13:51 WIB
Perjalanan menuju Taman Nasional Ujung Kulon, Kabupaten Pandeglang, Banten, Jumat (1/5/2015). KOMPAS/INGKI RINALDIPerjalanan menuju Taman Nasional Ujung Kulon, Kabupaten Pandeglang, Banten, Jumat (1/5/2015).
EditorI Made Asdhiana

Sejak itulah ia mulai menikmati keasyikannya memandu tamu. Laki-laki dengan empat anak itu bahkan punya sejumlah pelanggan tetap dari luar negeri.

Misalnya saja pasangan asal Belgia yang menjadi kliennya sejak tahun 1989 hingga 2009. Sepanjang periode itu sudah tujuh kali mereka datang ke Ujung Kulon dan senantiasa meminta Martin menjadi pemandu.

”Mungkin mereka terkesan karena saya pernah memasakkan mereka jamur waktu di tengah hutan,” ujar Martin.

Kesan mendalam seperti itu juga dirasakan Martin, terutama ketika mendapati tamu dengan keinginan cenderung unik. Misalnya, pada Mei 2013, ada sepasang muda-mudi dari Perancis yang hendak menikah. ”Yang perempuan ingin foto sama badak sebelum menikah, ya, selama setengah bulan kami menginap di dalam hutan. Dan, hasilnya, tidak dapat, ha-ha-ha,” kata Martin.

Martin, pada 2005-2007, pernah bekerja dalam tim yang memasang kamera jebakan untuk memantau populasi dan pergerakan badak jawa dalam habitatnya. Meskipun ia paham bahwa kawasan Cigenter di depan Pulau Handeleum dan Geusik Luhur kerap kali disambangi badak, bukan jaminan tamunya juga bakal berjumpa dengan badak-badak itu.

Sekalipun ada catatan bahwa jumlah badak jawa yang tertangkap kamera mengalami peningkatan, populasi yang relatif sedikit dan wilayah sebaran yang relatif luas membuat badak jawa relatif sulit ditemukan. Ini belum lagi sifat badak yang cenderung agresif.

Berdasarkan catatan Kompas, selama tahun 2011, kamera jebakan Balai TNUK memotret 35 ekor (22 jantan dan 13 betina), dan 5 ekor di antaranya anakan badak jawa. Adapun sepanjang tahun 2012, kamera memotret 51 individu badak jawa (29 jantan dan 22 betina) dan 8 ekor di antaranya anakan. Ini di antaranya sebagai akibat dari perluasan pemasangan kamera jebakan.

Namun, Martin pernah beberapa kali secara langsung melihat badak jawa. Bahkan, satu kali pernah bertubrukan pandang dengan satwa itu, bersama dengan sejumlah rekan pemasang kamera jebakan.

”Kami semua langsung naik ke atas pohon begitu tahu badak itu mengetahui kami,” ujar Martin sambil terkekeh.

Pengalaman pemandu

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X