BrandzView
Konten ini merupakan kerja sama Kompas.com dengan Kementerian Pariwisata & Ekonomi Kreatif

Mengintip Pesona Desa Penglipuran di Bali, Desa Terbersih Ketiga di Dunia

Kompas.com - 22/10/2021, 15:55 WIB
Jalan utama Desa Penglipuran. Indonesia TravelJalan utama Desa Penglipuran.
|

KOMPAS.com – Selalu ada yang menarik untuk dikulik dari Bali. Selain cantik secara bentangan alam, Pulau Seribu Pura ini juga kaya akan hasil seni dan budaya.

Berkunjung ke Bali pun sepertinya bukan sesuatu yang membosankan. Malahan, banyak orang kini tak sabar menjejakkan kaki di Pulau Dewata. Hal ini wajar mengingat hampir dua tahun sektor pariwisata Indonesia, termasuk Bali, ditutup akibat pandemi Covid-19.

Kini, situasi telah berbeda karena pandemi berangsur dapat dikendalikan. Apalagi, capaian vaksinasi Covid-19 di Bali telah menyentuh angka 99,75 persen untuk dosis pertama dan 85,13 persen untuk dosis kedua, sebagaimana dilansir dari laman web Kementerian Kesehatan (Kemkes), Jumat (22/10/2021).

Karena itu, pemerintah optimistis untuk membuka kembali gerbang pariwisata Pulau Dewata. Pembukaan ini sekaligus menjadi momentum #ItstimeforBali.

Sebagai surga wisata #DiIndonesiaAja, Bali punya banyak pilihan obyek dan atraksi wisata, selain pantai. Salah satunya, Desa Penglipuran yang sudah tersertifikasi Cleanliness, Health, Safety, and Environmental Sustainability (CHSE).

Baca juga: Yuk, Coba Pengalaman Baru Jadi Responsible Traveler di 5 Destinasi Wisata Bali

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Desa Penglipuran merupakan salah satu dari sembilan desa adat di Bali. Lokasinya berada di Kecamatan Bangli, Kabupaten Bangli, dan berjarak sekitar 45 kilometer dari Kota Denpasar.

Menurut legenda setempat, desa ini sudah ada sejak 700 tahun lalu, yaitu pada zaman Kerajaan Bangli. Cerita yang beredar juga menyebutkan bahwa Desa Penglipuran merupakan hadiah dari Raja Bangli kepada masyarakat yang ikut bertempur melawan Kerajaan Gianyar.

Sebagai desa adat, masyarakat Desa Penglipuran amat memegang tegas tradisi nenek moyang yang sudah berumur ratusan tahun. Mereka juga masih menerapkan dua hukum tradisional dalam bermasyarakat, yakni awig-awig dan drestha. Kemampuan dalam mempertahankan tradisi membuat Desa Penglipuran begitu unik.

Lantas, apa saja yang menarik dari Desa Penglipuran? Mengapa desa ini patut untuk dijadikan destinasi tujuan wisata di Bali? Berikut ulasannya.

Baca juga: Biar Aktivitas Traveling Enggak Monoton, Coba 4 Kegiatan Sport Ini

1. Dinobatkan sebagai Desa Terbersih di Dunia

Desa Penglipuran merupakan desa terbersih ketiga di dunia, setelah Desa Mawlynnong di India dan Giethoorn di Belanda. Jadi, sampah berserakan, bising kemacetan, dan polusi udara mustahil ditemukan di desa ini.

Demi menjaga kebersihan, masyarakat setempat menyediakan tempat sampah di desa. Bahkan, setiap 30 meter terdapat tempat sampah.

Selain itu, pihak desa juga menerapkan sejumlah aturan adat ketat. Salah satunya, larangan menggunakan kendaraan bermotor agar kualitas udara tetap bersih. Wisatawan yang hendak berkeliling Desa Penglipuran mau tak mau harus berjalan kaki atau bersepeda.

Meski begitu, kamu sepertinya tidak akan lelah, apalagi bosan. Pasalnya, saat memasuki desa, deretan tanaman hijau dan bunga warna-warni, seperti bugenvil, kembang sepatu, mawar, dan kamboja akan menyambutmu. Semakin masuk ke dalam, pemandangan desa terlihat semakin memanjakan mata. Udara pun terasa kian sejuk.

Kalaupun lelah di perjalanan, kamu bisa singgah di warung makan yang ada di dalam desa atau bersantai sejenak di banjar adat di pertengahan permukiman.

Selain predikat desa terbersih di dunia, Desa Penglipuran juga mendapat beberapa penghargaan bergengsi lain, seperti Indonesia Sustainable Tourism Award (ISTA) pada 2017 dan Sustainable Destinations Top 100 versi Green Destinations Foundation.

Baca juga: Antibosan, Berikut Ide Kreatif Liburan Virtual ke Bali dari Rumah

Zona utama mandala di Desa Penglipuran difungsikan sebagai tempat ibadah. Zona utama mandala di Desa Penglipuran difungsikan sebagai tempat ibadah.

2. Mengadopsi konsep tata ruang tradisi nenek moyang

Di tengah terpaan modernisasi, Desa Penglipuran masih mempertahankan tradisi dan nilai luhur nenek moyang. Salah satunya terlihat dari tata ruang desa yang mengadopsi konsep Tri Mandala.

Tri Mandala merupakan pembagian lahan menjadi tiga zona berdasarkan nilai kesucian yang diurutkan mulai dari utara sebagai tempat paling suci hingga selatan sebagai tempat paling tidak suci.

Oleh masyarakat setempat, zona utama mandala yang terletak di utara dianggap sebagai peraduan para dewa. Karena itu, tempat ibadah hanya didirikan di kawasan ini. Salah satunya, Pura Penataran, tempat memuja Dewa Brahma yang merupakan pencipta seluruh alam semesta menurut kepercayaan Hindu.

Sementara, di bagian tengah desa, terdapat zona madya mandala. Area ini difungsikan sebagai permukiman penduduk.

Selanjutnya, zona paling tidak suci di selatan disebut sebagai nista mandala. Area ini dikhususkan sebagai tempat peristirahatan terakhir masyarakat yang sudah mangkat alias pemakaman penduduk.

Baca juga: Yuk, Jalan-jalan Virtual ke 4 Destinasi Keren di Indonesia

 

3. Hunian tradisional

Kemampuan masyarakat Desa Penglipuran dalam mempertahankan tradisi juga terlihat dari huniannya. Sebagian besar pekarangan—sebutan untuk rumah—di desa ini dibangun dengan konsep tradisional. Hal ini tampak dari penggunaan bambu sebagai material utama bangunan.

Secara arsitektur, rumah warga di Desa Penglipuran pun tampak unik karena punya pola seragam. Keseragaman ini dilihat dari bentuk angkul-angkul, luas lahan bangunan, dan pembagian denah ruangan.

Setiap rumah di Desa Penglipuran memiliki kamar tidur, ruang tamu, dapur, balai-balai, lumbung, dan tempat sembahyang. Keseragaman tersebut membuat desa ini berbeda dengan desa adat lainnya yang ada di Bali.

Selain untuk tata ruang desa, konsep Tri Mandala juga diaplikasikan pada rumah penduduk dengan ketentuan hampir sama. Bagian utama hanya untuk tempat beribadah, tengah (kamar dan dapur) untuk beraktivitas sehari-hari, dan bagian luar digunakan sebagai tempat menjemur baju atau serta kandang ternak.

Baca juga: Bikin Rumah Tambah Nyaman dengan Sentuhan 3 Kain Tradisional Ini

Desa Penglipuran dikelilingi hutan bambu seluas puluhan hektare. Desa Penglipuran dikelilingi hutan bambu seluas puluhan hektare.

4. Dikelilingi hutan bambu seluas puluhan hektare

Sekitar 40 persen dari total luas Desa Penglipuran merupakan kawasan hutan bambu. Menurut kepercayaan setempat, hutan ini tidak tumbuh sendiri, tapi ditanam oleh nenek moyang.

Dengan kata lain, hutan bambu dianggap sebagai bagian dari sejarah Desa Penglipuran. Karena itu, masyarakat setempat melestarikan hutan tersebut.

Selain merawat peninggalan nenek moyang, pelestarian dilakukan demi menjaga keseimbangan antara manusia dan alam. Sebab, hutan tersebut juga berfungsi sebagai kawasan resapan air.

Ada sekitar 15 spesies bambu yang tumbuh di hutan bambu Desa Penglipuran. Bambu dari hutan ini pun merupakan salah satu bambu terbaik di Bali.

Penggunaan bambu dari hutan tersebut sebagian besar diutamakan untuk Laba Pura (memelihara bangunan pura), kemudian disusul untuk bangunan lain, seperti rumah.

Baca juga: Sebelum Destinasi Wisata Dibuka Kembali, Pahami Panduan Protokol Berwisata Berikut

5. Tradisi ritual keagamaan

Layaknya desa adat lain di Bali, Desa Penglipuran juga memiliki ritual keagamaan yang terus dijalankan hingga saat ini. Salah satunya, upacara Ngusaba yang biasa dilakukan untuk menyambut Hari Raya Nyepi.

Lewat upacara tersebut, masyarakat menghaturkan berbagai sesajen di pelataran pura. Persembahan ini merupakan bentuk rasa syukur atas hasil panen.

Selain itu, setiap 15 hari sekali, masyarakat Desa Penglipuran juga akan datang ke Pura Penataran untuk bersembahyang. Ritual ini terus dilakukan karena sudah diajarkan oleh para tetua adat dan merupakan ajaran yang diwariskan oleh para leluhur.

Tradisi menarik lain yang bisa disaksikan di Desa Penglipuran adalah perayaan Hari Raya Galungan yang diperingati setiap 210 hari sekali.

Namun, perlu diingat, kamu harus mengikuti etiket yang berlaku saat menyaksikan upacara keagamaan tersebut untuk menghormati penduduk setempat.

Sajian khas Desa Penglipuran Tipat Cantok. Sajian khas Desa Penglipuran Tipat Cantok.

Baca juga: Jadi Salah Satu Surga Destinasi #DiIndonesiaAja, Berikut 5 Hal yang Dirindukan Wisatawan Saat Traveling ke Bali

6. Sajian kuliner unik loloh cemcem dan tipat cantok

Selain pemandangan indah dan budaya sarat nilai luhur, Desa Penglipuran juga punya sajian unik yang wajib untuk dicoba, yaitu loloh cemcem dan tipat cantok.

Loloh cemcem merupakan minuman khas yang terbuat dari daun cemcem dengan khasiat melancarkan pencernaan. Pembuatan minuman ini masih menggunakan metode tradisional sehingga tanpa bahan pengawet dan pemanis buatan.

Sementara, tipat cantok merupakan hidangan ketupat dengan sayuran rebus dan disajikan bersama bumbu kacang.

Selain punya kuliner menggoyang lidah, Desa Penglipuran juga memiliki beragam produk ekonomi kreatif (ekraf) dalam bentuk kriya. Contohnya, topeng bambu ukir, miniatur rumah tradisional Penglipuran, dan keben lukis.

Guna membuat pengalaman berbelanja lebih menarik, masyarakat setempat juga memberikan kesempatan bagi wisatawan untuk belajar membuat kerajinan tangan langsung dari para perajin di sana.

Sebagai informasi, produk ekraf asal Bali kini juga bisa dibeli secara daring melalui platform #BeliKreatifLokal milik Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf). Untuk belanja, silakan kunjungi laman ini.

Baca juga: 5 Produk Ekraf Indonesia yang Berhasil Go International, Kamu Sudah Punya?

Demi menyukseskan reaktivasi pariwisata di Bali, Menteri Pariwisata dan Ekonomi kreatif (Menparekraf) Sandiaga Salahuddin Uno mengimbau masyarakat agar terus disiplin menerapkan protokol kesehatan (prokes) 6M.

Adapun prokes 6M terdiri dari memakai masker, mencuci tangan dengan sabun di air mengalir, menjaga jarak, menjauhi kerumunan, mengurangi mobilitas, dan menghindari makan bersama.

Selain prokes 6M, Sandi juga menekankan pentingnya vaksin sebelum berwisata. Di samping melindungi diri dan orang terdekat dari Covid-19, vaksinasi juga menjadi syarat utama untuk bepergian di Indonesia.

Untuk meningkatkan rasa aman dan nyaman saat bepergian, pastikan juga destinasi yang akan dikunjungi sudah tersertifikasi CHSE.

Sertifikasi CHSE merupakan sertifikat yang dikeluarkan Kemenparekraf untuk industri pariwisata, seperti hotel, restoran, dan wahana rekreasi. Sertifikat ini menjadi tanda bahwa pelaku usaha mampu memberikan jaminan kebersihan, kesehatan, keselamatan, dan kelestarian lingkungan kepada wisatawan.

Di Bali sendiri, jumlah tempat pariwisata yang sudah tersertifikasi CHSE sudah mencapai ribuan, termasuk Desa Penglipuran. Untuk mengetahui lokasi-lokasi bersertifikasi CHSE di Pulau Dewata, kamu bisa kunjungi laman ini.

Baca juga: Berandai-andai, seperti Apa Gaya Traveling Pascapandemi?

Sandi berharap, reaktivasi pariwisata Bali dapat memulihkan sektor parekraf dan menggeliatkan perekonomian setempat yang sempat terkontraksi pada Juni 2021.

“Berdasarkan data yang kami dapat, kontraksi perekonomian di Bali berlanjut hingga kuartal II 2021. Angkanya tidak terlalu jauh dibandingkan dengan kuartal pertama. Malah, termasuk kategori yang cukup dalam,” ujarnya.

Guna memastikan upaya reaktivasi sektor pariwisata di Indonesia terus berjalan, Sandi melanjutkan, pihaknya juga menyiapkan program dukungan akomodasi bagi tenaga kesehatan (nakes) dan penunjang fasilitas kesehatan (faskes) penanganan Covid-19.

“Saat ini, Kementerian Keuangan (Kemenkeu) melalui Direktorat Jenderal (Dirjen) Anggaran Kemenkeu telah menyetujui anggaran untuk usulan program tersebut dengan nilai Rp 298 miliar dari yang sebelumnya diajukan Kemenparekraf Rp 300 miliar,” terangnya seperti diberitakan Kompas.com, Sabtu (4/9/2021).

Sebagai informasi, Kemenparekraf tengah menggelar program berhadiah Pesona Punya Kuis (PUKIS) dengan total hadiah senilai jutaan rupiah untuk 20 orang pemenang.

Adapun peserta yang ingin mengikuti kuis tersebut harus memenuhi persyaratan, yaitu mengikuti akun Instagram @pesonaid_travel, menjawab satu pertanyaan yang diberikan melalui akun Instagram tersebut, dan tag tiga orang teman.


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Pendaki Gunung Lawu via Karanganyar Wajib Pakai Sepatu Gunung

Pendaki Gunung Lawu via Karanganyar Wajib Pakai Sepatu Gunung

Travel Update
Turis Indonesia Sudah Bisa ke Singapura, Syaratnya Siapkan Asuransi Rp 315 Juta

Turis Indonesia Sudah Bisa ke Singapura, Syaratnya Siapkan Asuransi Rp 315 Juta

Travel Update
5 Tips Wisata di Puncak Kuik Ponorogo agar Puas Nikmati Keindahannya

5 Tips Wisata di Puncak Kuik Ponorogo agar Puas Nikmati Keindahannya

Travel Tips
Rute ke Candi Sukuh, Sekitar 45 dari Pusat Kabupaten Karanganyar

Rute ke Candi Sukuh, Sekitar 45 dari Pusat Kabupaten Karanganyar

Travel Tips
5 Tips ke Puncak Kuik Ponorogo, Waspada Jalan Menanjak Terjal dan Berkelok

5 Tips ke Puncak Kuik Ponorogo, Waspada Jalan Menanjak Terjal dan Berkelok

Travel Tips
Candi Sukuh Karanganyar, Sekilas Mirip Piramida Suku Maya di Meksiko

Candi Sukuh Karanganyar, Sekilas Mirip Piramida Suku Maya di Meksiko

Jalan Jalan
Perbatasan Internasional Dibuka, Garuda Indonesia Kerja Sama dengan Singapore Airlines

Perbatasan Internasional Dibuka, Garuda Indonesia Kerja Sama dengan Singapore Airlines

Travel Update
Tiga Kabupaten Penyangga Borobudur Ciptakan Tarian Bersama

Tiga Kabupaten Penyangga Borobudur Ciptakan Tarian Bersama

Travel Update
Charter Flight Bukan Jawaban, Penerbangan ke Bali untuk Turis Asing Harus Bisa Transit

Charter Flight Bukan Jawaban, Penerbangan ke Bali untuk Turis Asing Harus Bisa Transit

Travel Update
Harga Tiket Masuk Candi Sukuh, Candi Tanpa Stupa di Karanganyar

Harga Tiket Masuk Candi Sukuh, Candi Tanpa Stupa di Karanganyar

Jalan Jalan
Sandiaga Tanggapi Surat Terbuka Soal Pariwisata untuk Presiden Jokowi dari IINTOA

Sandiaga Tanggapi Surat Terbuka Soal Pariwisata untuk Presiden Jokowi dari IINTOA

Travel Update
Belajar dari Krisis, Saatnya Membangun Resiliensi Sektor Wisata

Belajar dari Krisis, Saatnya Membangun Resiliensi Sektor Wisata

Travel Update
Kunjungan Turis Asing ke Indonesia Naik 1,41 Persen pada September 2021

Kunjungan Turis Asing ke Indonesia Naik 1,41 Persen pada September 2021

Travel Update
Tingkat Hunian Hotel di Mandalika NTB Naik hingga 95 Persen Selama World Superbike

Tingkat Hunian Hotel di Mandalika NTB Naik hingga 95 Persen Selama World Superbike

Travel Update
Visa on Arrival Dinilai Percepat Proses Pengajuan Visa Turis Asing

Visa on Arrival Dinilai Percepat Proses Pengajuan Visa Turis Asing

Travel Update
komentar di artikel lainnya
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.