Asosiasi Usul Random Test Rapid Diganti Swab Antigen Saat Libur Akhir Tahun

Kompas.com - 19/11/2020, 08:05 WIB
Satgas Covid-19 Cianjur, Jawa Barat menggelar rapid test dan operasi yustisi di sejumlah objek wisata di kawasan Puncak, Sabtu (31/10/2020) dalam momen libur panjang pekan ini. KOMPAS.com/FIRMAN TAUFIQURRAHMANSatgas Covid-19 Cianjur, Jawa Barat menggelar rapid test dan operasi yustisi di sejumlah objek wisata di kawasan Puncak, Sabtu (31/10/2020) dalam momen libur panjang pekan ini.


KOMPAS.com – Random test dengan metode rapid test sempat dilakukan di banyak titik daerah-daerah yang jadi tujuan wisatawan saat periode libur panjang akhir Oktober 2020 silam. 

Terkait apakah metode ini bisa juga digunakan untuk periode libur panjang selanjutnya yakni di akhir Desember 2020, Sekretaris Jenderal Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Maulana Yusran mengusulkan pemerintah untuk mengganti metode random test.

Baca juga: Libur Panjang di Jabar, Ada Rapid Tes Acak untuk Wisatawan

Swab antigen

Ia menyarankan pemerintah untuk bisa menggunakan metode tes selain rapid test yakni metode swab antigen. Pasalnya, rapid test sering dinilai kurang akurat.

Jika dinyatakan reaktif, maka masih dibutuhkan swab test lebih lanjut yang hasilnya cukup lama untuk memastikan apakah orang tersebut benar-benar positif.

Metode swab antigen dipercaya punya akurasi lebih tinggi daripada rapid test biasa. Walaupun tingkat keakuratannya memang masih berada di bawah tes PCR.

Pengunjung menikmati wisata pantai Lagoon di Taman Impian Jaya Ancol, Jakarta Utara, Kamis (29/10/2020). Liburan panjang dimanfaatkan warga untuk berwisata ke tempat wisata pantai tersebut, jumlah pengunjung tercatat mencapai sekitar 22.000 pada pukul 15.00. Kuota pengunjung dibatasi 25 persen dari kapasitas maksimal atau 25.000 orang pada masa pembatasan sosial berskala besar (PSBB) transisi ini.KOMPAS.com/GARRY LOTULUNG Pengunjung menikmati wisata pantai Lagoon di Taman Impian Jaya Ancol, Jakarta Utara, Kamis (29/10/2020). Liburan panjang dimanfaatkan warga untuk berwisata ke tempat wisata pantai tersebut, jumlah pengunjung tercatat mencapai sekitar 22.000 pada pukul 15.00. Kuota pengunjung dibatasi 25 persen dari kapasitas maksimal atau 25.000 orang pada masa pembatasan sosial berskala besar (PSBB) transisi ini.

“Kenapa swab antigen ini enggak dipopulerkan? Kalau ini bisa dilakukan dan harganya bisa murah rasanya ini bisa jadi satu metode yang baik ke depannya,” tutur Maulana ketika dihubungi Kompas.com, Rabu (18/11/2020).

Menurutnya, pemerintah masih terlalu berfokus pada metode rapid test yang memang cepat dan murah tapi kurang akurat. Juga pada metode lanjutannya yakni PCR yang membutuhkan biaya cukup besar walaupun tingkat keakuratannya memang tinggi.

Baca juga: Libur Panjang, 455 Calon Wisatawan Candi Borobudur Jalani Rapid Test

“Sementara PCR itu kan mahal dan hasilnya cukup lama. Kita cari yang hasilnya 10 menit tapi akurasinya tinggi,” ujar dia.

Salah satu negara yang menggunakan metode swab antigen ini, kata Maulana, adalah Korea Selatan. Dan negara tersebut memang bisa dibilang cukup berhasil dalam melandaikan kurva kasus di negara mereka.

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X