Pengalaman Ikut Tur Virtual di Sumba, Simulasi Liburan 3 Hari 2 Malam

Kompas.com - 09/05/2020, 07:20 WIB
Pesawat kalibrasi jenis B200GT milik Kementerian Perhubungan saat lepas landas di Bandara Tambolaka, Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur. KOMPAS/MOHAMMAD HILMI FAIQPesawat kalibrasi jenis B200GT milik Kementerian Perhubungan saat lepas landas di Bandara Tambolaka, Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur.

JAKARTA, KOMPAS.com – Pandemi corona menyebabkan sebagian orang beralih ke tur virtual untuk menghibur diri sendiri.

Tidak hanya tur virtual bisa membawamu jalan-jalan ke berbagai macam tempat wisata, kamu juga bisa menjelajahi jalanan di sekitar tempat tersebut sembari rebahan di rumah saja.

Baca juga: Simulasi Liburan 3 Hari 2 Malam di Sumba Secara Virtual, Simak Caranya

Kompas.com berkesempatan untuk mengikuti tur virtual yang diselenggarakan oleh Atourin, salah satu penyedia jasa trip wisata di Indonesia, Jumat (8/5/2020) pukul 15:30 – 17:30 WIB.

Sebagai seseorang yang belum pernah menginjakkan kaki di Pulau Sumba, saya senang bisa menjelajahinya secara virtual sambil rebahan di rumah saja.

Dalam tur virtual kali ini, tempat wisata yang dikunjungi membentang dari Sumba Barat hingga Sumba Timur. Mengikuti rencana liburan 3 hari 2 malam yang sudah disiapkan Atourin.

“Nanti kita akan disambut oleh Kepala Desa Tebara pak Marthen Bira selaku pemandu tur. Tapi ceritanya kita sekarang belum bertemu karena kita masih di bandara,” kata operator tur virtual Atourin, Reza Permadi.

Sebanyak 110 peserta dipandu langsung oleh Marthen yang segera kami temui setelah kami “keluar” dari Bandara Tambolaka yang berada di Sumba Barat Daya.

Namun sebelum kami memulai perjalanan, Reza menjelaskan terlebih dahulu seputar Pulau Sumba secara geografis.

Baca juga: Jelajahi Gunung Tambora dan Sawahlunto Secara Virtual, Simak Caranya

“15 juta tahun yang lalu Pulau Sumba masih belum terbentuk. Dia baru ada pada 10 juta tahun yang lalu,” kata Reza.

Selanjutnya selama kami berpura-pura masih berada di pesawat dan belum mendarat di bandara, kami diperlihatkan video singkat yang memberi sedikit gambaran akan keindahan Pulau Sumba. Mulai dari hamparang padang sabana hingga kampung adat.

Setelah video usai, kami langsung di bawa ke area bandara untuk bertemu dengan Marthen yang ceritanya sudah menunggu kami.

“Selamat datang bapak dan ibu. Salam sehat dari Sumba. Di tengah pandemi Covid-19 ini kita masih bisa bertemu dan jalan-jalan melalui virtual tour,” kata Marthen.

Bandara Tambolaka, Radamata

Bandara Tambolaka merupakan bandara yang direkomendasikan untuk dituju jika ingin menjelajahi Sumba Barat hingga Sumba Timur.

Reza juga memberitahu bahwa akses dari Jakarta menuju Bandara Tambolaka tidak ada rute langsung melainkan harus transit di Denpasar, Bali atau Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT).

“Beberapa maskapai penerbangan seperti Garuda, Lion Air, NAM Air, dan Sriwijaya Air bisa menuju ke Sumba dari Bali atau Kupang,” kata Reza.

Selama perjalanan dari Bandara Tambolaka menuju tempat wisata selanjutnya, Marthen menjelaskan bahwa Pulau Sumba juga disebut sebagai Tanah Marapu.

Marapu adalah kepercayaan masyarakat Sumba yang menggunakan arwah nenek moyang sebagai mediator kepada sang pencipta.

Baca juga: Cara Wisata Virtual Urban Legend dan Geopark, dari TPU Jeruk Purut sampai Gunung Rinjani

Pengunjung melompat ke Laguna Weekuri di Kecamatan Kodi, Kabupaten Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur, Rabu (15/8/2018).KOMPAS.com/SILVITA AGMASARI Pengunjung melompat ke Laguna Weekuri di Kecamatan Kodi, Kabupaten Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur, Rabu (15/8/2018).
Laguna Weekuri, Desa Kalena Rongo

Selain warna airnya yang masih biru dan bening, Laguna Weekuri memiliki satu hal yang unik yaitu airnya yang masih menyambung dengan pantai.

Air dari pantai tersebut disaring oleh batu karang yang membatasi laguna tersebut sehingga rasa air Laguna Weekuri disebut unik. Percampuran antara asin dan tidak asin, misalnya.

Jika ingin berkunjung ke sana seusai pandemi corona, kamu hanya perlu merogoh kocek sebesar Rp 2.000 saja.

Pemandangan yang ditawarkan sangat indah. Sebab, selain bentangan air laguna yang biru dan bening, jika kamu mendaki sedikit ke bebatuan yang mengelilinginya, kamu bisa melihat pantai di sana.

“Bisa juga mandi di laguna untuk melepas beban dan rasa penat setelah berada di kota,” kata Marthen.

Laguna yang dikelola oleh Dinas Pariwisata Sumba Barat Daya ini memilii beberapa titik yang tidak begitu dalam. Jika kamu tidak bisa berenang, kamu tetap bisa menikmati segarnya air di sana sambil berendam.

Bahkan, Marthen menuturkan bahwa anak-anak kerap bermain di sana karena sangat aman. Masyarakat setempat menganggapnya sebagai sebuah kolam raksasa.

Baca juga: Fakta Seputar Nihi Sumba, Tempat Bulan Madu Jennifer Lawrence

Kampung Adat Ratenggaro, Umbu Ngedo

Terdapat banyak sekali yang unik dari kampung adat ini. Mulai dari rumah adat yang memiliki atap unik, hingga tumpukan batu megalitikum yang berada di atas rerumputan hijau.

Batu megalitikum yang dilihat di dalam Kampung Adat Ratenggaro merupakan batu yang digunakan untuk mengubur anggota keluarga yang sudah meninggal.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 

Cruising around Desa Adat Ratenggaro. Di desa adat ani, biskita bulih meronda menaiki ‘Sandalwood Pony’ ani. Btw, Kuda albino ani Wahyu namanya, umur nya 4 tahun sudah, lagi 4 tahun baru tah akil baligh . Di desa ani tah si @davidbeckham and familynya datang last month. Tapi before atu sudah kampung adat ani menjadi tarikan utama untuk pelancong datang melawat. Malasku naip panjang-panjang, biskita bulih check IG story ku highlight . ????Desa Adat Ratenggaro - Sumba Barat Daya . Brought to you by: @tehbotolsosrobn @psa_brunei . Supported by: @gadgeters.bn @caffebenebn @kindykare @takafulbrunei @laneigebn . #kurapak_travel #kurapak_sumba2018 #travel #webstagram #instagram #wanderlust #indonesia #sumba #ohsum #aliq2sumba #wonderfulindonesia #folkindonesia #exploresumba #ratenggaro #ratenggarovillage #sandalwoodpony #sumbabaratdaya #sumbabaratdayantt

A post shared by Aliq From Brunei (@aliqpombunai) on Sep 13, 2018 at 7:37pm PDT

“Di Sumba ini kuburan berada di dekat rumah. Malah ada wisata baru di sini yaitu minum kopi di atas kuburan setiap pagi atau sore, sambil makan camilan singkong,” kata Marthen.

Selama perjalanan dari Laguna Weekuri menuju Kampung Adat Ratenggaro, jika kamu berkunjung secara langsung, Marthen menuturkan bahwa kamu akan melewati 10 kampung adat yang masih mempertahankan bangunan asli.

Selanjutnya, kampung adat tersebut memiliki lapangan pasola yang menghadap langsung ke pantai. Marthen mengatakan bahwa sebagian kampung adat memiliki lapangan pasola sendiri.

Baca juga: Dibuat Jatuh Cinta oleh Pesona Pantai Walakiri Sumba

Bukit Warinding di Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur.RIESA EKA PUTRI Bukit Warinding di Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur.

Pantai Mbawana, Panenggo Ede

Pantai yang juga disebut sebagai Pantai Batu Bolong merupakan pantai yang paling populer dikunjungi wisatawan di Sumba Barat Daya.

Salah satu ciri khas dari pantai ini adalah tebing batu yang memiliki bolongan besar. Marthen menuturkan bahwa wisatawan suka berfoto di sana sembari melihat matahari tenggelam.

“Walaupun tidak ada atraksi di sini selain batu bolong dan pasir putih, tapi ini yang dicari oleh wisatawan yang ingin mencari ketenangan,” kata Marthen.

Baca juga: Mengenal Ikon dari Sumba Lewat Festival Kuda Sandalwood

Bendungan Waikelo Sawah, Tema Tana

Terletak sekitar 9 km dari Kota Waikabubak, tempat ini disebut Bendungan Waikelo Sawah karena dikelilingi persawahan.

Di sana terdapat gua yang mengeluarkan air yang dijadikan sebagai bendungan oleh pemerintah setempat untuk mengairi sawah.

Tepat di bawah bendungan tersebut terdapat sebuah air terjun kecil yang menjadi sebuah tempat pariwisata tersendiri yang tidak kalah unik.

“Air terjun ini aman untuk adik-adik kita yang masih kecil karena tidak terlalu tinggi. Jadi bisa bermain sembari menikmati keindahan sawah dan alamnya,” kata Marthen.

Baca juga: 6 Destinasi Wisata Di Sumba, Pesonanya Indah Tiada Tara

Kampung Tarung, Wailiang

Kampung adat ini berada di Waikabubak, Sumba Barat dan memiliki waktu tempuh dari Bandara Tambolaka sekitar 45 menit menggunakan mobil.

“Ini merupakan simbol dari Kota Waikabubak, atau Provinsi Sumba Barat. Keunikannya adalah kampung ini terletak di tengah kota. Dikelilingi lapangan Manda Elu yang menjadi alun-alun Kota Waikabubak,” kata Marthen.

Sama seperti Kampung Adat Ratenggaro, Kampung Tarung masih mempertahankan rumah tradisionalnya. Hanya saja atap mereka posisinya lebih rentah hampir menyentuh tanah, dan tidak setinggi atap di kampung sebelumnya.

Di depan setiap rumah juga terdapat batu megalitikum yang dijadikan sebagai kuburan.

“Ada lagi yang unik dari kampung adat di Sumba adalah mereka sebagian besar terletak di atas bukit. Ini untuk menghindari serangan musuh. Mereka juga membuat jalan yang susah,” kata Marthen.

Kampung Bodo Ede, Wailiang

Terletak tidak jauh dari Kampung Tarung, kamu bisa berjalan kaki untuk menuju Kampung Bodo Ede.

Marthen menuturkan bahwa kampung adat ini memiliki banyak sekali pantangan. Sebab, setiap klan yang ada dalam kampung adat tersebut memiliki pantangan yang berbeda-beda.

“Tapi wisatawannya tidak takut. Ini jadi semacam sesuatu yang menarik bagi wisatawan karena banyak pantangan,” kata Marthen.

Ada pun beberapa pantangan yang dimaksud adalah tidak boleh memakai ilalang sebagai tusuk gigi, dan mengetuk-ngetuk bambu di sana.

Baca juga: Ratusan Kuda Ramaikan Festival Pasola di Sumba Barat

Kampung Prai Ijing, Tebara

Kampung adat yang dikelilingi oleh pohon kedondong ini masih memiliki bangunan tradisionalnya. Mulai dari atap hingga batu megalitikum.

Di sana, masyarakatnya masih menggunakan kain khas Sumba dan melakukan kegiatan sehari-hari secara tradisional. Salah satunya adalah menumbuk padi.

“Ini, sama seperti kegiatan menenun yang dilakukan setiap hari oleh para wanita, tidak dilakukan untuk pariwisata,” kata Marthen.

Untuk masuk ke sini, wisatawan lokal setempat hanya dikenakan biaya Rp 10.000 saja. Dengan harga demikian, kamu sudah bisa meminjam kain adat untuk berfoto.

Sementara wisatawan Nusantara (wisnus) dikenakan biaya Rp 25.000 dan sudah mendapat fasilitas parkir gratis dan peminjaman kain adat. Untuk wisatawan mancanegara adalah Rp 50.000.

Baca juga: Berkenalan dengan Rumah Adat Sumba di Kampung Praijing

Arena Pasola Lamboya, Patiala Bawa

Pasola merupakan acara melempar lembing kayu yang dilakukan oleh para pemuda desa di Sumba dari atas kuda yang dipacu kencang yang berlawanan arah.

Tradisi ini merupakan tradisi perang-perangan yang bisa disaksikan saat berkunjung ke Sumba Barat dan Sumba Barat Daya.

Salah satu lapangan yang kerap dijadikan sebagai arena pasola di Lamboya adalah Lapangan Hobba Kalla.

“Legendanya ini diawali dari Pantai Wanokaka. Sebelah timur lapangan di selatan Sumba Barat. Di sanalah terciptanya acara pasola, peperangan adat memperebutkan putri,” kata Marthen.

Pasola merupakan cara masyarakat Sumba mengenang legenda tersebut. Biasanya, mereka melakukannya di bulan Februari dan Maret mengikuti ritual adat yang sudah ada.

Sementara acara pasola di bulan lain merupakan acara yang sengaja dibuat untuk para wisatawan. Lembing yang digunakan juga terbuat dari bahan yang lunak agar tidak menyakitkan saat terkena lemparan.

Baca juga: Satu Malam Mengenal Budaya Sumba Tengah

Seorang peserta lomba foto burung dan birdrace berenang di kolam Matayangu di TN MataLawa Sumba, NTT, Senin (6/8/2018).  KOMPAS.com/MARKUS MAKUR Seorang peserta lomba foto burung dan birdrace berenang di kolam Matayangu di TN MataLawa Sumba, NTT, Senin (6/8/2018).

Air Terjun Matayangu, Manurara

Kendati jalur yang ditempuh cukup sulit, namun Marthen mengatakan bahwa wisatawan senang sekali berkunjung ke sini.

Sulitnya jalur yang ditempuh dirasa sebanding dengan pemandangan yang akan mereka lihat di tempat wisata yang termasuk dalam Taman Nasional MataLawa.

“Dari jalan utama ke sini adalah 1,5 jam. Airnya warna biru karena ada kandungan mineral. Ini sangat alami,” tutur Marthen.

Baca juga: Pulang dari Sumba, Ini 5 Pilihan Oleh-olehnya

Bukit Wairinding, Pambotanjara

Terletak di Sumba Timur, Bukit Wairinding merupakan salah satu dari beberapa bukit yang terkenal di sana.

“Bukit-bukit Teleteubbies itu yang banyak ada di Sumba Timur. Untuk berkunjung ke sini ada retribusi secara sukarela,” kata Marthen.

Bukit Wairinding menawarkan pemandangan yang luar biasa. Hamparan bukit dan indahnya langit saat pagi dan sore hari tidak kalah mengagumkan meski dilihat secara virtual.

Baca juga: Cara Menuju Sumba dan Kisaran Harga Transportasi

Pantai Walakiri, Watumbaka

Pantai ini terkenal akan “dancing tree”, fenomena pepohonan yang memiliki bentuk meliuk-liuk seperti sedang menari.

“Ini merupakan salah satu obyek wisata terkenal di Sumba Timur. Biasanya view terindah pada saat sunset. Orang-orang yang belum pernah ke Sumba tidak percaya kalau pemandangan ini berada di Sumba,” tutur Marthen.

Air Terjun Wai Marang, Ngaru

Sumba Timur memiliki beberapa air terjun yang indah, salah satunya Air Terjun Wai Marang. Untuk menuju ke sini, Marthen mengatakan bahwa waktu tempuhnya terbilang cukup lama.

“Tempatnya indah. Namun akses untuk ke sana masih minim. Justru ini yang menjadi daya tariknya. Kita bisa menikmati alam sekitar sembari melihat beberapa air terjun di sekitarnya,” kata Marthen.

Air Terjun Wai Marang terbilang cukup unik. Sebab, tempat tersebut berada di dalam lekukan gua berongga. Airnya pun masih jernih dan berwarna hijau terang.

Wisatawan yang berkunjung ke sini, menurut Marthen, senangnya langsung berenang sesaat mereka sampai di sana.

Baca juga: Erikson, Bocah Penemu Air Terjun Wai Marang di Sumba

Pantai Watuparunu, Lainjanji

“Watuparunu” dalam bahasa lokal artinya adalah menyelam. Pantai ini mirip dengan Pantai Mbwawana yang memiliki batu bolong.

“Karena Pulau Sumba merupakan pulau yang muncul dari dasar laut, mungkin ini yang menyebabkan Sumba memiliki pantai dengan tipe-tipe karang (batu) yang unik. Sangat menarik untuk dikunjungi,” tutur Marthen.

Kampung Raja Prailiu, Prailiu

Jika kamu berada di Kota Waingapu, akses menuju Kampung Raja Prailiu terbilang cukup dekat. Sebab, kampung tersebut berada tepat di tengah kota.

Rumah adat tradisional dan batu megalitikum masih menghiasi kampung adat tersebut. Satu hal yang unik dari kampung ini adalah kain tenun yang dijual.

“Daya tarik Sumba ada di kain dan sarungnya. Mulai dari yang harganya Rp 500.000 hinga jutaan. Di sini pembuatan kainnya masih alami. Menggunakan pewarna alami yang membuat daya jual kain Sumba Timur tinggi,” kata Marthen.



Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X