Tradisi Lebaran khas Indonesia, Kenduri Kuburan di Aceh hingga Tradisi Hadrat di Papua

Kompas.com - 25/05/2020, 06:00 WIB
Iring iringan warga yang membawa berbagai jenis makanan dan hasil bumi di Pura Lingsar, Lombok Barat, Rabu (11/12/2019). Mereka berkeliling sebanyak 7 kali mengelilingi bangunan kemalik,sebuah bangunan yang dikeramatkan umat Hindu maupun Islam (muslim) di
Lombok. KOMPAS.com/FITRI RACHMAWATIIring iringan warga yang membawa berbagai jenis makanan dan hasil bumi di Pura Lingsar, Lombok Barat, Rabu (11/12/2019). Mereka berkeliling sebanyak 7 kali mengelilingi bangunan kemalik,sebuah bangunan yang dikeramatkan umat Hindu maupun Islam (muslim) di Lombok.


KOMPAS.com - Perayaan Idul Fitri tahun ini sedikit berbeda karena semua orang di rumah saja dan mudik dilarang, guna mencegah penyebaran virus corona.

Pada kondisi normal, Indonesia memiliki beragam budaya atau tradisi yang biasa dilakukan saat Lebaran. Keragaman budaya ini memberikan warna dan nuansa berbeda di setiap daerah Indonesia.

Baca juga: Serunya Tradisi Lebaran di Nusantara, dari Aceh hingga Papua

Berikut Kompas.com rangkum delapan tradisi seru yang biasa dilakukan umat Islam di seluruh Indonesia, mulai dari Aceh hingga Papua.

1. Kenduri Kuburan di Aceh

Mulai dari Aceh, Indonesia memiliki ragam tradisi menyambut Lebaran. Kota berjuluk Serambi Mekah itu telah turun temurun melakukan tradisi Kenduri Kuburan.

Tradisi ini biasa dilakukan oleh warga Desa Pasi, Kabupaten Aceh Barat di hari ke-12 setelah perayaan Idul Fitri. Perayaannya, warga desa akan melakukan ziarah dan makan kenduri bersama di lokasi pemakaman keluarga.

Baca juga: Kenduri Makam, Ritual di Hari ke 12 Setelah Lebaran

Warga biasanya akan membawa hidangan nasi dan aneka kue khas Aceh untuk dimakan bersama usai rangkaian acara ritual.

Seperti dikutip dari Serambinews.com, ziarah kubur anggota keluarga dengan menggelar acara kenduri di pemakaman merupakan tradisi turun temurun yang dilaksanakan setelah Idul Fitri, di Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya), juga sebagian wilayah pantai barat-selatan Aceh.

Jadwal kenduri kuburan atau kenduri jirat dilaksanakan sesuai keputusan rapat warga desa, biasanya dimulai pada hari ketujuh lebaran (Idul Fitri) sampai memasuki hari belasan lebaran.

Tradisi Malaman di malam takbir di Liwa, Lampung Barat, Kamis (16/7/2015) malam. Tradisi Malaman biasa dilakukan pada malam takbir.KOMPAS/ANGGER PUTRANTO Tradisi Malaman di malam takbir di Liwa, Lampung Barat, Kamis (16/7/2015) malam. Tradisi Malaman biasa dilakukan pada malam takbir.

2. Malaman di Lampung

Bergeser ke ujung selatan pulau Sumatera tepatnya di Lampung, terdapat tradisi Malaman. Tradisi ini dilakukan pada malam takbir, sehari menjelang Idul Fitri.

Anak-anak dan remaja laki-laki akan menyusun batok-batok kelapa di halaman rumah hingga setinggi satu meter bahkan lebih.

Di Lampung menjelang Lebaran, akan banyak batok kelapa yang tak terpakai sisa memasak rendang.

Baca juga: Kelapa dan Tradisi Lebaran di Lampung Barat

Sering disebut juga 'Menara Sabut Kelapa', susunan batok kelapa itu kemudian dibakar hingga api tampak membesar dan anak-anak akan bergembira.

Waktu yang biasanya dibutuhkan untuk membakar semua sabut kelapa itu adalah 60 menit.

Ketika sudah terbakar habis, sabut kelapa hanya menyisakan bara yang memerah berserakan di tanah. Zaman dulu, orang banyak menggunakan bara tersebut untuk menyetrika baju baru yang dipakai saat Lebaran.

3. Sungkem Telompak di Magelang

Tradisi berikutnya yaitu berada di pulau Jawa tepatnya di Magelang, Jawa Tengah. Tradisi ini bernama Sungkem Telompak yang mana diikuti masyarakat lereng barat Gunung Merbabu.

Orang-orang melakukan tradisi sebagai bentuk syukur atas ketersediaan air di mata air Telompak, Desa Banyusidi, Kecamatan Pakis, Kabupaten Magelang.

Selain itu, mereka juga menggelar kesenian tradisional 'Campur Bawur' di mata air usai berdoa dan memasang sesaji. Ritual ini dipimpin oleh seorang juru kunci.

Diberitakan Kompas.com, (14/9/2010), mata air Telompak tetap mengalir saat masa sulit melanda desa tahun 1932.

Airnya yang melimpah membuat warga dapat bertahan menghadapi krisis tersebut. Warga pun mengucap rasa syukur atas kelimpahan air tersebut melalui cara tradisi Sungkem Telompak.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X